Oleh: Dr H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si, Ketua Forum Silaturahmi Doktor Indonesia Provinsi Banten
Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).
Sebagai bagian dari rukun Islam, haji adalah penyempurna kelima ibadah yang terkandung di dalamnya. Seseorang yang melakukan ibadah haji tentunya harus sudah melakukan empat ibadah lainnya yakni syahadat, salat, zakat, dan puasa. Ibadah haji sebagai penyempurna pun memiliki makna kepatuhan hamba kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Sesungguhnya haji adalah ibadah yang sangat agung, sangat mulia dan tidak semua orang muslim bisa melakukannya. Ibadah haji adalah suatu kewajiban yang banyak orang mengatakan bahwa orang-orang yang berhasil menunaikan ibadah haji maka pada hakikatnya dia dipanggil oleh Allah. Mengapa seperti itu? Hal ini dikarenakan bekal yang Allah sebutkan dalam firman-Nya. Karena tidak jarang orang yang sudah berlimpah harta tetapi tidak diberi kesempatan menunaikan ibadah haji.
Banyak orang yang mampu tetapi tidak sempat. Ada yang sempat tetapi ia tidak mampu. Ada lagi yang sempat dan mampu tetapi tidak sehat. Ada juga yang mampu, sempat dan sehat tetapi harus menunggu 15 tahun lagi. Ada yang mampu, sempat dan sehat tetapi hatinya tidak tergerak untuk berhaji. Allah SWT Berfirman dalam Al Quran Surat Al Hajj : 23 ” Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (Surat Al-Hajj Ayat 27).
Bahwa ayat tersebut ditujukan kepada Nabi Ibrahim untuk menyeru kepada manusia, untuk menginformasikan perintah haji. Dari ayat tersebut kita semua bisa mengambil pelajaran yang sangat jelas bahwa kaum muslimin dari berbagai penjuru yang jauh mampu melaksanakan ibadah haji dengan berbagai jalan
Haji itu tidak hanya karena masalah biaya tetapi juga karena motivasi dalam diri sendiri dan karena niat, contohnya saja banyak orang yang bisa berhaji walaupun hanya berprofesi sebagai penjahit ataupun pemulung, itu semua berawal dari niat dan motivasi diri. Yakinlah bahwa Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu tapi Allah memampukan orang-orang yang terpanggil.
Untuk bisa menjadi yang “terpanggil” niat saja tidak cukup. Harus dengan “niat dan keinginan yang kuat” yang dimanifestasikan dalam tindakan kita. Berdoa setiap waktu dan mengerahkan segenap tenaga dan usahanya untuk bisa pergi ke Baitullah. Keinginan yang kuat akan menuntun kita ke jalan menuju Baitullah.
Dalam menunaikan ibadah haji, kita memerlukan bekal, baik itu belak lahiriyah maupun bekal batiniyah. Bekal lahiriyah seperti ongkos perjalanan, biaya kehidupan di Makkah, dan biaya kehidupan bagi keluarga yang ditinggalkan apabila ia memiliki tanggungan. Sedangkan bekal batiniyah itu adalah ketakwaan kepada Allah.
Kita harus benar-benar berniat untuk menunaikan ibadah haji sehingga syarat dan rukunnya berhasil kita laksanakan tanpa adanya pelanggaran.











