Satu waktu Syekh Manshuruddin bersama ki Jemah da’wah Islam. Sewaktu di perjalanan di tengah-tengah hutan belukar daerah Mantiug, Istirahat sambil bersandar pada pohon waru, itu pohon waru doyong memberi hormat pada Syekh Manshuruddin sampai disebut itu Kampung Waru Condong. Sampai sekarang pohon waru tidak ada
yang lurus.
Pada waktu Itu Syekh Manshuruddin lagi beristirahat mendengar suara Harimau bersuara keras yang berada di Pesisir Binuangeun. Terus Syekh Manshuruddin membuktikan itu suara Harimau.
“Ternyata harimau itu terjepit kaki depannya terjepit Kima (Tridacna adalah genus kerang-kerangan berukuran besar penghuni perairan laut hangat). Harimau itu melirik ke arah Syekh Manshuruddin sambil mengeluh tunduk seperti minta
tolong ingin diselamatkan dari jepitan kima tersebut,” katanya.
Syekh Manshuruddin mengerti terhadap keinginan harimau tersebut terus harimau itu didekati sambil dinasihati atau wasiati (diberi janji).
“Mau kamu diselamatkan, tapi amanat ke kamu jangan sampai mengganggu ke anak cucu saya đan ke orang-orang yang nyebut nama saya. Harimau itu mengerti dan sanggup terhadap perjanjian itu,” katanya.
Berkat karomah Syekh Manshuruddin kima tersebut putus pada waktu yang bersamaan, sehingga harimau Itu jadi selamat. Terus harimau tersebut diberi nama Raden Tempang Langlang Buana atau si Pincang atau Kibuyut Kalam, itu harimau rajanya dari tiap-tiap pejajahan.
Sepulangnya dari Banten Kidul tersebut Syekh Manshuruddin kembali menetap di Cikadueun. Terus menerus mengajarkan syariat agama Islam di sekitar Banten umumnya hingga wafatnya di Cikadueun.
“Dimakamkan di Cikadueun, sampai sekarang Syekh Manshuruddin atau Syekh Masyhur dikenal di seluruh lapisan masyarakat yang berziarzh berduyun-duyun tiap hari pada-pada tawasul ngalap berkah,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Abdul Rozak











