SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten mencatat bahwa wilayah Provinsi Banten pernah mengalami kekeringan ekstrem dalam jangka waktu 11 tahun terakhir ini.
Bahkan, terdapat puluhan ribu sawah mengalami kekeringan dengan 13 ribu diantaranya mengalami puso. Hal itu diungkapkan Kepala Distan Banten Agus M Tauchid.
Agus mengatakan, fenomena El Nino yang terjadi saat ini tidaklah seberapa dengan fenomena kekeringan yang pernah menimpa Provinsi Banten.
Dia mencatat, kekeringan paling ekstrem terjadi pada tahun 2012, 2015 dan 2019.
Di tahun 2012 pihaknya mencatat seluas 43.738 hektar sawah mengalami kekeringan dengan Puso sebanyak 13.718 hektar. Sementara, pada tahun 2015 pihaknya mencatat kekeringan terjadi di 25.393 hektar sawah di Provinsi Banten, 9.957 di antaranya mengalami puso.
Dan pada tahun 2019 tercatat terdapat 24.553 hektar sawah mengalami kekeringan dengan 9.707 hektar di antaranya mengalami puso.
“Banten pernah mengalami kekeringan yang sangat ekstrem yakni pada tahun 2012, puluhan ribu hektar sawah terdampak dengan belasan ribu di antaranya mengalami puso. Tentu hal itu sangat merugikan para petani,” ujar Agus kepada RADARBANTEN, Minggu 8 Oktober 2023.
Agus mengatakan, pada tahun ini per bulan September 2023, pihaknya mencatat terdapat 6.253,4 hektar sawah mengalami kekeringan dan 997,6 hektar di antaranya mengalami puso. Agus menyebut, jumlah sawah yang mengalami puso terus menurun setiap tahunnya.
“Di tengah fenomena El Nino yang telah menyebabkan kemarau berkepanjangan ini kita hanya mencatat 997,6 hektar sawah mengalami puso. Jumlah itu menurun jauh dibandingkan bencana kekeringan di tahun sebelum-sebelumnya,” ucapnya.
Kadistan menyebut bahwa penurunan jumlah sawah yang mengalami puso tidak terlepas dari upaya pihaknya bersama dengan para penyuluh pertanian. Agus mengaku pihaknya sudah melakukan antisipasi dampak fenomena El Nino sejak jauh-jauh hari.
Salah satunya yakni dengan menggelar sekolah iklim. Dalam sekolah itu pihaknya bekerjasama dengan BMKG untuk memberikan informasi mengenai prediksi cuaca ke depan termasuk memprediksi adanya fenomena El Nino.
“Pertanian ini sangatlah berpengaruh terhadap cuaca, maka prediksi cuaca sangatlah menjadi penting. Pengalaman bencana kekeringan sebelumnya juga telah menjadi pembelajar bagi kita untuk selalu siap menghadapi segala kemungkinan yang ada,” ucapnya.
Melalui sekolah iklim, pihaknya mengedukasi kepada para petani untuk melakukan langkah antisipasi dampak kemarau bekepanjangan. Salah satunya dengan mempercepat masa tanam dan menyediakan sumber resapan air.
Selain itu pihaknya juga terus mengoptimalkan auransi usaha tani padi (AUTP) yang mana asuransi ini bisa mencegah para petani mengalami kerugian yang cukup besar jika mengalami puso dampak kemarau.
“Alhamdulillah dengan begitu kita mencegah kerugian bagi para petani, saat ini juga kita terus melakukan langkah penyelamatan bagi sawah sawah yang mengalami kekeringan agar tidak menjadi puso. Yaitu dengan memberikan bantuan sumur bor kepada lahan persawahan yang mengalami kekeringan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi











