PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID-PT WIKA (Wijaya Karya) Serang Panimbang tancap gas kerjakan proyek jalan tol Serang-Panimbang Seksi 2 ruas Rangkasbitung-Cileles sepanjang 24,17 kilometer dan Seksi 3 ruas Cileles-Panimbang sepanjang 33 kilometer.
PT WIKA Serang Panimbang bisa tancap gas karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah menerbitkan surat pelepasan hak lahan kawasan hutan untuk proyek strategis nasional (PSN) yaitu pembangunan jalan Tol Serang-Panimbang.
Surat pelepasan dari KLHK telah ditunggu sejak 2022 lalu dan baru direalisasikan pada bulan Oktober 2023. Belum adanya surat pelepasan tersebut sempat membuat PT WIKA terkendala dalam pelaksanaan pengerjaan spot-spot konstruksi pembangunan jalan Tol Serang-Panimbang.
Manajer Bidang Pengembangan Sistem PT Wika Serang-Panimbang Muhammad Albagir mengatakan PT Wika Serang Panimbang optimistis bisa menyelesaikan pengerjaan sesuai target.
“Bisa merampungkan pengerjaan seksi 2 yakni ruas Rangkasbitung-Cileles dan Seksi 3 ruas Cileles-Panimbang. Karena memang kita tancap gas terus agar bisa rampung di tahun 2024,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Minggu 29 Oktober 2023.
Lebih lanjut, Albagir menjelaskan, optimis bisa rampung tahun 2024 karena saat ini sudah tidak ada masalah lahan yang menjadi kendala krusial. Khususnya dalam pengerjaan interchange maupun main road (jalan utama) baik Seksi 2 dan Seksi 3 yang sebelumnya terkendala karena belum adanya surat pelepasan kawasan hutan dari KLHK.
“Terkait lahan KLHK, untuk surat pelepasan kawasan hutan sekarang ini sudah terbit baik yang Seksi 2 dan Seksi 3. Saat ini dalam proses inventarisasi dan identifikasi oleh ATR/BPN,” katanya.
Lebih lanjut Albagir menuturkan, setelah adanya surat tersebut dapat melanjutkan pengerjaan secara pararel. Dimana sebelumnya sempat tertunda karena tidak dapat melaksanakan pengerjaan spot-spot konstruksi jalan tol.
“Insyallah dapat kami laksanakan secara pararel. Secara umum hampir tidak ada kendala lahan lagi karena tanah di main road hampir seluruhnya bebas,” katanya.
Namun memang masih ada sebagian lahan yang belum bebas. Seperti tanah wakaf, Tanah Kas Desa atau Tanah Bengkok Desa, lahan sengketa, dan lain – lain.
“Lahan itu mayoritas berada bukan di main road (badan jalan utama jalan Tol Serang – Panimbang). Tetapi di luar main road,” katanya.
Pada saat ini, total lahan sudah bebas kurang lebih sudah mencapai 86,09 persen. “Masih tersisa sekitar 13 persen ini mayoritas tanah berkarakteristik khusus. Yang lokasinya bukan berada pada main road,” katanya.
Ketika ditanya, kesiapan menghadapi musim hujan, Albagir menegaskan, ketika nanti tiba musim penghujan pihaknya akan memprioritaskan pekerjaan struktural. Seperti overpass, underpass dan lain-lain.
“Adapun untuk progres pengerjaan sampai bulan Oktober ini untuk Seksi 2 sudah mencapai 54,35 persen. Dan untuk Seksi 3, ruas Cileles – Panimbang sudah mencapai 43,55 persen,” katanya.
Anggota DPRD Kabupaten Pandeglang Fraksi Partai Demokrat Iing Andri Supriadi berharap, pengerjaan proyek jalan tol dapat selesai sesuai ditargetkan.
“Karena keberadaan jalan tol akan mendorong percepatan pertumbuhan investasi dan ekonomi di Kabupaten Pandeglang,” katanya.
Perlu diketahui bahwa, pembangun Jalan Tol Serang-Panimbang sepanjang 83,67 kilometer terbagi menjadi 3 Seksi, yakni Seksi 1 sepanjang 26,50 kilometer yang menghubungkan Serang-Rangkasbitung telah beroperasi sejak 2021 lalu.
Kemudian Seksi 2 sepanjang 24,17 km menghubungkan Rangkasbitung-Cileles dengan progres konstruksi hingga bulan Oktober 2023 mencapai 54,35 persen dengan pengerjaan menjadi porsi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Wijaya Karya Serang Panimbang,” katanya.
Selanjutnya Seksi 3 sepanjang 33 kilometer menghubungkan Cileles-Panimbang dilaksanakan oleh tiga kontraktor pelaksana yaitu oleh PT Sino Road, PT Adikarya, dan PT Wijaya Karya. (*)
Reporter: Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











