SERANG,RADARBANTEN.CO.ID–Banten menjadi salah satu provinsi favorit bagi para investor. Bahkan hingga semester pertama ini, provinsi yang memiliki delapan kabupaten/kota ini menempati peringkat kelima sebagai provinsi dengan nilai investasi tertinggi secara nasional.
Ekonom Senior Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten Lukman Hakim mengatakan, Banten menempati peringkat kelima realisasi investasi sejak Januari sampai Juni tahun 2023 secara nasional dengan nilai investasi Rp50,6 triliun.
“Terdiri dari PMA (penanaman modal asing-red) dan PMDN (penanaman modal dalam negeri-red),” ujar Lukman.
Sementara, lanjutnya, posisi pertama ditempati Jawa Barat dengan realisasi investasi Rp 103,7 triliun. Kemudian, DKI Jakarta Rp 79,5 triliun, Jawa Timur Rp 61,2 triliun, dan Sulawesi Tengah Rp 56,4 triliun.
Kata Lukman, investasi di Banten didominasi oleh sektor industri kimia, farmasi, dan perumahan. Dipaparkan, investasi di industri kimia dan farmasi sebesar Rp11,86 triliun dengan 800 proyek atau 23,45 persen.
Kemudian, investasi di bidang perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar Rp 11,35 triliun dengan 869 proyek atau 22,44 persen. Berikutnya, transportasi, gudang, dan telekomunikasi dengan nilai Rp4,82 triliun dengan 1.070 proyek atau 9,53 persen.
Keempat, investasi di sektor listrik, gas, dan air sebesar Rp 4,48 triliun dengan 196 proyek atau 8,87 persen. “Kelima, jasa lainnya Rp3,2 triliun dengan 1.999 proyek atau 6,34 persen,” terang Lukman.
Dengan penanaman modal asing terbesar berasal dari Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan. “Investasi di Banten juga mengalami pertumbuhan mencapai 53,7 persen dibandingkan tahun lalu yang nilainya Rp32,96 triliun,” ujarnya.
Lukman mengungkapkan, investasi dari Malaysia sebesar USD $ 850.000 atau 38,22 persen, Singapura USD $ 435.000 atau 19,55 persen, dan Korea Selatan USD $ 389.000 atau 17,50 persen. Kemudian, investasi dari Hongkong USD $ 148.000 atau 6,5 persen dan China USD $ 115.000 atau 5,21 persen.
Sebelumnya, Pj Gubernur Banten Al Muktabar mengaku walaupun investasi tinggi di Banten, tetapi tak menyerap banyak tenaga kerja karena mereka adalah padat modal dan menggunakan banyak teknologi. Sehingga, tak sejalan dengan prinsip ekonomi investasi tinggi, penyerapan tenaga kerja tinggi. Meskipun begitu, ia mengaku tetap ada penyerapan tenaga kerja walaupun tidak signifikan. (*)
Reporter : Rostinah
Editor: Agung S Pambudi











