LITERASI sains merupakan kemampuan menggunakan pengetahuan, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk meningkatkan penguasaan literasi sains sangat diperlukan (Maturradiyah, 2015). Literasi sains merupakan kunci utama untuk menghadapi berbagai tantangan pada abad XXI untuk mencukupi kebutuhan air dan makanan, pengendalian penyakit, menghasilkan energi yang cukup, dan menghadapi perubahan iklim (UNEP, 2012).
Fakta hasil PISA 2015 menunjukkan rata-rata nilai sains negara OECD adalah 493, sedangkan Indonesia baru mencapai skor 403. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan dalam memperlakukan pendidikan sains. Dalam sistem pendidikan nasional, konsep dan pola pikir pendidikan sains sudah tersurat dan menggunakan pendekatan saintifik dan inkuiri. Namun, faktanya hal tersebut belum diterapkan di kelas-kelas pembelajaran.
Oleh karena itu, perlu ditelusuri menegnai literasi sains, indikator, dan cara mengembangkan atau membiasakan menjadi literat sains.
Literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Definisi literasi sains ini memandang literasi sains bersifat multidimensional, bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains, melainkan lebih dari itu (Firman, 2007).
Literasi sains dibedakan dalam tiga dimensi yaitu: konten (pengetahuan sains), proses (kompetensi sains), dan konteks (aplikasi sains) (PISA, 2000 & 2003).
Menurut National Science Teacher Association /NSTA (1971) individu yang literat sains adalah orang yang menggunakan konsep sains, keterampilan proses, dan nilai dalam membuat keputusan sehari-hari kalau ia berhubungan dengan orang lain atau dengan lingkungannya, dan memahami interelasi antara sains, teknologi dan masyarakat, termasuk perkembangan sosial dan ekonomi.
Untuk mengkategorikan kemampuan peserta didik dalam literasi sains maka digunakan indikator dalam menentukan kemampuan literasi sains. Indikator yang digunakan merujuk dari indikator kemampuan literasi sains menurut Gormally et al. (2012: 365) dalam Winata dkk. (2018: 60-61).
Pengukuran indikator literasi sains tersebut berupa:
1) mengidentifikasi pendapat ilmiah yang valid;
2) melakukan penelusuran literatur yang efektif;
3) memahami elemen-elemen desain penelitian dan bagaimana dampaknya terhadap temuan/ kesimpulan;
4) membuat grafik secara tepat dari data;
5) memecahkan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif, termasuk statistik dasar;
6) memahami dan menginterpretasikan statistik dasar;
7) melakukan inferensi, prediksi, dan penarikan kesimpulan berdasarkan data kuantitatif.
Cara Mengukur Literasi Sains
Penilaian literasi sains yaitu menilai pemahaman peserta didik terhadap konten sains, proses sains, dan konteks aplikasi sains. Konten dalam literasi sains meliputi materi yang terdapat dalam kurikulum dan materi yang bersifat lintas kurikulum dengan penekanan pada pemahaman konsep dan kemampuan untuk menggunakannya dalam kehidupan. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika peserta didik memecahkan permasalahan.
Sedangkan konteks adalah area aplikasi dari konsep-konsep sains. Sesuai dengan pandangan tersebut, penilaian literasi sains tidak semata-mata berupa pengukuran tingkat pemahaman terhadap pengetahuan sains tetapi juga pemahaman terhadap berbagai aspek proses sains serta kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dan proses sains dalam situasi nyata yang dihadapi peserta didik, ini berarti bahwa penilaian literasi sains tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi sains akan tetapi juga pada penguasaan kecakapan hidup, kemampuan berpikir dan kemampuan dalam melakukan proses-proses sains pada kehidupan nyata peserta didik (Yuliati, 2017).
Penelitian pengembangan instrumen evaluasi berbasis literasi sains menggunakan desain penelitian Sugiyono (2013: 434) yang telah disederhanakan kedalam tiga tahapan utama, yaitu:
(a) tahap studi pendahuluan;
(b) tahap studi pengembangan;
(c) tahap evaluasi.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan agar literasi sains meningkat yaitu pertama dengan menerapkan pendekatan dan model pembelajaran sains yang tepat mengutamakan pengembangan sikap, gagasan dan keterampilan proses yang menekankan pada pendekatan penemuan ilmiah. Kedua guru harus mampu membuat instrument evaluasi yang berbasis literasi sains. Dan selanjutnya bagi siswa harus ada minat dan motivasi, intensitas belajar yang tinggi serta sikap sains yang harus terus dikembangkan (Utami, 2018).
Solusi permasalahan Literasi Sains
Salah satu permasalahan literasi sains adalah proses pembelajaran yang belum bisa memfasilitasi secara optimal untuk melatih literasi saintifik siswa. Sebagai contoh siswa belum dibiasakan untuk mengembangkan pertanyaan penyelidikan dan eksperimen yang dilakukan masih bersifat verifikasi terhadap buku pelajaran (textbook). Kebiasaan proses pembelajaran seperti ini bisa mengakibatkan literasi saintifik siswa menjadi rendah. Kerendahan literasi saintifik timbul karena siswa cenderung merasa puas mendapat pengetahuan setelah mengikuti pembelajaran meskipun belum sampai memiliki penguasaan. Sementara pembelajaran terkesan mengajak siswa untuk menghafal pengetahuan.
Dengan keadaan tersebut, diperlukan upaya perbaikan berkelanjutan terhadap pembelajaran supaya dapat meningkatkan literasi saintifik siswa. Upaya perbaikan yang dapat dilakukan bisa melalui beragam cara, misalnya dengan menganalisis kandungan literasi saintifik dalam bahan ajar, mengembangkan tes literasi saintifik, serta menganalisis desain pembelajaran. Dalam penelitian ini, upaya perbaikan yang dipilih ialah dengan menganalisis desain pembelajaran yang diselaraskan terhadap domain literasi saintifik dan tuntutan kurikulum yang berlaku. Pilihan ini diambil karena dalam desain pembelajaran dapat menyertakan bahan ajar dan tes serta memberikan tindakan secara langsung pada siswa. Penyesuaian terhadap kurikulum yang berlaku dirasa perlu agar hasil penelitian dapat digunakan dalam pembelajaran, tak sekadar menjadi bahasan penelitian.
Kesimpulan
Literasi sains yaitu pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains.
Untuk mengetahui tingkat literasi sains di Indonesia, perlu dikembangkan alat ukur. Dengan adanya alat atau instrumen pengukuran ini maka tingkat literasi sains di Indonesia dapat diketahui, sehingga dapat dikembangkan upaya untuk meningkatkan budaya literasi sains di Indonesia, dan mengatasi berbagai permasalahan literasi sains, dengan tujuan peningkatan literasi sains di Indonesia agar tidak tertinggal dengan negara-negara lain.
Penulis: Mabruroh, Mahasiswa Magister Pendidikan Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten










