Dalam upayanya mengatasi dampak bencana, BPBD-PK Pandeglang menerapkan mitigasi yang terbagi menjadi dua, yaitu struktural dan non-struktural.
Lanjutnya, ADRA, lembaga asal Jerman, fokus pada mitigasi non-struktural, seperti studi pengecekan terhadap masyarakat dan persiapan yang melibatkan tingkat pemerintah daerah hingga tingkat masyarakat.
Acep Firmansyah dari BPBD-PK Pandeglang menyatakan bahwa langkah-langkah mitigasi yang diimplementasikan oleh ADRA sejalan dengan upaya BPBD-PK Pandeglang dalam mempersiapkan kesiapsiagaan terhadap bencana darurat.
“Pelatihan-pelatihan yang kami lakukan bertujuan agar dapat menghadapi risiko terjadinya bencana dengan lebih baik,” ujarnya.
Lebih lanjut, terkait dengan mitigasi lainnya, pemerintah daerah Pandeglang telah membangun dinding pemecah gelombang di daerah Sumur sebagai respons terhadap potensi bencana tsunami. Tindakan ini dianggap sebagai langkah konkret dalam mengurangi risiko bencana.
“Nah, ini adalah salah satu bentuk mitigasi yang sudah kami lakukan untuk mengurangi risiko bencana,” jelas Acep Firmansyah.
Selain itu, dalam upaya antisipasi kesiapsiagaan terhadap bencana, BPBD-PK Pandeglang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengeluarkan peringatan dini. Informasi tersebut kemudian diterima oleh BPBD-PK dan disebarluaskan secara luas kepada masyarakat.
“Penting untuk dicatat bahwa BPBD-PK Pandeglang aktif menyebarkan informasi peringatan dini kepada masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih siap dan tanggap menghadapi potensi bencana,” pungkasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Abdul Rozak











