SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang tak lagi menjadikan program budidaya garam laut sebagai program prioritas di Kabupaten Serang. Hal itu dikarenakan harga garam yang tak menentu sehingga menyebabkan banyak petani yang mulai beralih membudidaya garam laut.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Serang, Zaldi Duhana mengatakan, program dari pemerintah pusat untuk budidaya garam laut di Kabupaten Serang masih berlanjut yakni garam rakyat. Bahkan petani garam yang berada di Lontar Tirtayasa masih banyak yang produksi.
Namun demikian, harga garam yang tidak menentu membuat banyak petani yang ada di Kabupaten Serang mulai enggan untuk bertani garam.
“Pernah sebelumnya mencapai Rp6.000 per kilogram, namun pernah pula jatuh di bawah Rp2.000,” katanya, Jum’at 16 Februari 2024.
Padahal, lanjut Zaldi, peluang untuk usaha garam di Kabupaten Serang sangat terbuka lebar. Bahkan potensi pasarnya pun sangat amat terbuka. “Kayak contoh Pandeglang Panimbang butuh 600 ton garam untuk industri ikan asin di sana,” tegasnya.
Namun harga yang tidak menentu menjadi salah satu faktor utama yang menjadikan program budidaya garam tak lagi menjadi program prioritas di Kabupaten Serang. Ditambah, saat ini pemerintah pusat masih melakukan impor garam dari Australia.
“Harga fluktuatif itu membuat penambak kita kurang menarik. Potensi ada tapi tambak garam kita beda dengan Indramayu di sana sekali produksi bisa berkontainer, di kita paling satu truk,” jelasnya.
Selain itu, banyak juga petani garam yang ada di Kabupaten Serang tidak fokus bertani garam. Di mana mereka tidak hanya bertani garam melainkan juga berprofesi sebagai nelayan yang menangkap ikan.
Bukan tanpa alasan, hal itu terjadi karena harga yang tidak menentu dan juga kondisi cuaca yang juga membuat para petani garam tidak dapat bertani garam.
“Karena seperti saat ini musim hujan walau pakai tunel gak bisa produksi, garam bagus pas musim panas,” terangnya.
Ia mengaku jika saat ini jumlah petani garam semakin berkurang. Dulu, petani garam tersebar di daerag Kubang Puji, Linduk dan Domas. Namun saat ini sudah berkurang jumlahnya. “Masih cuma dari target program pusat, cuma 20 persen yang bertahan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Aditya











