Oleh : DR. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ
Artinya : “Barangsiapa yang berbahagia (menyambut) kedatangan bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk api Neraka”.
Mukadimah
Perbincangan mengenai kegembiraan menyambut tamu agung, bernama Ramadhan, juga terkait dengan suasana hati. Janji Allah, siapapun yang gembira ria menyambut ramadhan tubuhnya tak akan disentuh oleh api neraka. Maknanya sederhana, kalau diantara kita ada yang sepanjang hidupnya bersedih, terluka hatinya, tidak pernah bahagia, begitu Ramadhan di depan mata, harus berubah menjadi bahagia. Kebencian, murka, kedengkian dan permusuhan harus diakhiri, diganti dengan perasaan senang berjumpa dengan Ramadhan.
Ramadhan menjadi bulan suka cita, gembira ria dan dipenuhi dengan cinta, ampunan dan dibebaskannya manusia dari ancaman hukuman neraka. Sama halnya ketika para terpidana, divonis bersalah oleh hakim, diancam pidana penjara atau hukuman seumur hidup. Begitu ada kabar dan putusan bebas dari pengadilan, betapa bahagianya, tak ada yang lebih berharga. Janji Allah mengenai bebas ancaman dari api neraka, diberikan kepada hati yang gembira menyambut bulan suci.
Bulan Ramadhan bisa kita maknai sebagai bulan ilmu pengetahuan, bulan yang menginspirasi bahwa menghadiri majelis ilmu, satu langkah saja seperti satu tahun ibadah. Maka bukan mulia ini jangan hanya direduksi hanya ibadah ritual seperti puasa, sholat tarawih atau tadarus saja yang mendapatkan pahala berlipat ganda, tapi belajar, menuntut ilmu, kuliah, pengajian, diskusi ilmiah, riset akademik, semua tak kalah dengan pahala beribadah ritual bertahun-tahun.
Munggahan Tradisi Kearifan Lokal
Munggahan merupakan kearifan lokal masyarakat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.Bulan yang penuh nikmat untuk meningkatkan ketaatan yang pahalanya dilipatgandakan hanya dimiliki bulan Ramadhan, Nabi Muhamad Saw juga menganjurkan umatnya untuk memperbanyak amalan, baik wajib maupun sunnah.
Munggahan berasal dari bahasa Sunda munggah yang berarti naik. Secara harfiah makna dari munggahan yakni naik ke bulan suci yang derajatnya tinggi. Umumnya tradisi munggahan dilakukan beberapa hari sebelum bulan Ramadan.
Memasuki Ramadhan, ada sebuah tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Sunda. Tradisi itu disebut munggahan. Munggah berasal dari kata unggah yang berarti naik atau meningkat, yang konon pada zaman dahulu roh dan arwah nenek moyang atau kerabat yang sudah meninggal. Masyarakat Indonesia memiliki berbagai tradisi sebelum puasa atau Ramadhan, yang diwariskan secara turun remurun serta masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satunya adalah munggahan,
Munggahan merupakan wujud rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT dan upaya membersihkan diri dari hal-hal buruk selama setahun ke belakang. Munggahan tersebut bertujuan agar masyarakat terhindar dari perbuatan yang tidak baik selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Indonesia adalah negara dengan banyak keragaman budaya dan dikenal dengan perbedaannya. Seperti halnya tradisi yang ada di Indonesia, tentunya memiliki keragaman yang berbeda di setiap daerah.
Tradisi Munggahan merupakan salah satu tradisi yang masih aktif dilakukan oleh masyarakat. Bagi mereka, tradisi Munggahan tidak hanya mengandung ajaran Islam secara simbolis, tetapi juga mengandung nilai kemanusiaan yang kuat sehingga dapat menunjukkan hubungan universal antar manusia. Diantara makna dari tradisi munggahan antara lain :
Pertama, Ajang Silaturahmi, Tradisi Munggahan biasanya dilakukan khususnya oleh masyarakat Jawa Barat atau suku Sunda Islam. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun untuk saling bersilaturahmi bersama kerabat atau keluarga yang tempat tinggalnya jauh.
Kedua, Momen untuk Memaafkan, dengan berkumpul, tradisi munggahan juga dijadikan kesempatan untuk momen saling memaafkan. Apalagi sebelum menyambut bulan Ramadan, penting bagi kita untuk memohon maaf.
Ketiga, Rasa Syukur. Tradisi Munggahan ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Selain itu, tradisi ini juga sebagai bentuk rasa syukur karena diberi umur panjang untuk Kembali bertemu di bulan suci Ramadan. Dan keempat, sebagai Bentuk Mendekatkan Diri kepada Allah SWT. Munggahan ini juga sebagai simbol supaya kita naik level dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk mencapai derajat taqwa. Wallahu A’lam.

Penulis Adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.











