PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Gebrag ngadu beduk, sebuah tradisi kesenian yang telah ada sejak zaman dahulu, kini dihidupkan kembali dengan diselenggarakannya acara tersebut di Alun-alun Pandeglang.
Tradisi kesenian beduk ini memiliki sejarah yang berasal dari alam, khususnya tumbuhan, dengan menggunakan bahan dari pohon kelapa.
Salah satu seniman beduk di Pandeglang, Endang Suhendar menjelaskan bahwa tradisi gebrag ngadu beduk telah ada sejak tahun 1865, ketika pertama kali dipentaskan dalam acara menyambut pernikahan anak Bupati Pandeglang pada masa itu.
“Tradisi ini menggunakan bahan dari kelapa karena di wilayah Gunung Karang ini banyak tumbuh pohon kelapa, sehingga menjadi bahan utama yang digunakan oleh masyarakat,” ungkapnya, Minggu 21 April 2024.
Pada zaman dahulu, beduk tidak hanya digunakan sebagai alat musik, tetapi juga sebagai genderang perang. Bahkan, dalam tradisi Pasundan, beduk digunakan dalam berbagai ritual.
“Jadi, beduk pada masa lalu memiliki peran penting sebagai sarana ritual. Dahulu, beduk dianggap sangat sakral dan hanya boleh dimainkan oleh orang-orang tertentu,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa beduk pada masa lampau digunakan sebagai alat komunikasi untuk menandai berbagai acara keagamaan dan kehidupan sehari-hari, termasuk pengumuman waktu sholat dan memberi isyarat atas kematian seseorang dengan setiap pukulan beduk.
“Tradisi ngadu beduk berawal dari praktik Nganjor, di mana masyarakat dari satu kampung mengunjungi kampung lainnya sebagai bentuk solidaritas dan kebersamaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa dalam praktik Nganjor, kontak fisik sering terjadi, bahkan menyebabkan pertikaian di masa lampau. Bahkan, beduk sendiri pernah diadu hingga pecah, dan kekalahan ditentukan oleh beduk yang pecah.
“Pertikaian sering terjadi, namun akhirnya dilerai oleh para tokoh kampung, dan mereka sepakat untuk membuat saung sebagai wujud perdamaian. Proses Nganjor dilakukan di hutan, dan lagu-lagu yang dinyanyikan berasal dari alam, seperti cilimentre dan lainnya,” tambahnya.
Mengenai pertikaian yang terjadi di masa lampau, salah satu Bupati Pandeglang pada masa itu memerintahkan setiap kampung untuk berkumpul di Alun-alun Pandeglang. Peristiwa tersebut menjadi momen penting yang mendorong kami, para seniman, untuk mengembalikan tradisi ngadu beduk ke Alun-alun Pandeglang.
“Ini merupakan bagian sejarah penting Alun-alun Pandeglang, di mana kami merevitalisasi tradisi ini sekitar 45 tahun yang lalu, dan ini adalah yang ketiga kalinya ngadu beduk dilaksanakan di Alun-alun Pandeglang,” pungkasnya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











