SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Bakal Calon Gubernur (Cagub) Banten Ratu Ageng Rekawati menyampaikan keseriusannya membangun Provinsi Banten. Pegiat sosial ini pun ingin membuat Banten menjadi daerah yang lebih Bahagia.
Sebab kata Ratu, survei GoodStats menyebutkan Banten sebagai provinsi nomor 1 paling tidak bahagia di Indonesia.
Survei itu memaparkan bahwa Banten memiliki nilai 68,08, lalu Papua 69,74, Jawa Barat
70,23 dan DKI Jakarta 70,68.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab Tanah Jawara masuk kategori provinsi tidak bahagia. Seperti ketimpangan penduduk dan tingginya angka pengangguran.
Berdasarkan kajian BPS, yang menonjol di Banten terkait perasaan tertekan, cemas, pendidikan, keterampilan dan pendapatan rumah tangga.
“Hal-hal yang menjadi pendapat publik terus digiatkan. Pada dasarnya kebahagiaan itu relevan dengan kesejahteraan,” kata Ratu kepada RADARBANTEN.CO.ID, Rabu 15 Mei 2024.
Meningkatkan kebahagian warga Banten sendiri telah menjadi bagian dari visi misinya, dalam visi nya, Ratu ingin meningkatkan kebahagian warga Banten dengan meningkatkan fasilitas dan area publik untuk bermain anak, juga quality time keluarga.
Ia juga ingin mengurangi rasa tertekan dan cemas bagi pekerja kontrak, harian yang takut sewaktu-waktu diberhentikan dari pekerjaannya karena berbagai hal khususnya karena minim keterampilan yang dimiliki.
“Kita ingin Banten ini dapat menyiapkan SDM dengan memperbanyak Balai Latihan Kerja (BLK) dan kerja sama dengan perusahaan swasta untuk langsung menampung para lulusannya sehingga rasa cemas dari para pekerja maupun fresh gruade dapat dikurangi,”tuturnya.
Ratu yang juga sebagai penggiat kebudayaan ini juga berencana untuk membuat banyak membuat event yang bersifat hiburan atau pertunjukan seni budaya
lokal dan kekinian dan menjadikan Banten sebagai Wilayah Penyangga Sektor Pariwisata Nasional.
“Banten ini memiliki banyak destinasi wisata yang jarang diketahui publik atau Hidden Gem. Yang tentunya hidden gem itu perlu digali dan dikembangkan sebagai tujuan wisata wisatawan domestik yang dekat, murah, dan membahagiakan serta pengembangan usaha kreatif masyarakat setempat,” jelasnya.
Lebih jauhnya, Ratu menyebut bahwa kebahagian warga tidak akn terlepas dari tingkat kesejahteraan, kesehatan dan ekonomi warga itu sendiri.
Untuk itu, ia ingin Banten dapat menggenjot percepatan wilayah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan menciptakan kawasan industri baru seperti Kawasan Eco Industrial Park atau Kawasan Industri seperti yang telah dicanangkan di Kecamatan Cileles di Kabupaten Lebak.
Pada sektor kesehatan, dirinya berkomitmen untuk fokus menanggani perihal stunting atau masalah gizi di Banten. Sebab, menurutnya, Stunting masih menjadi masalah kesehatan prioritas di Provinsi Banten.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Banten menyebutkan angka prevalensi stunting di daerah itu terjadi penurunan menjadi 20 persen di 2022 dari sebelumnya pada 2021 24,6 persen.
Solusinya, kata Ratu, yakni dengan meningkatkan pelayanan kesehatan yang mendasar bagi warga khususnya keluarga beresiko stunting khususnya mereka yang ada di pelosok daerah.
Hal itu dapat dilakukan melalui dukungan anggaran yang bersumber dari APBD Kabupaten/Kota, APBN,
CSR, DAK fisik, dan DAK non fisik serta dana lainnya.
“Kira perlu meningkatkan fasilitas di posyandu seperti alat ukur dan nutrisi tambahan seperti melalui pemberian susu dan telur di setiap posyandu. Deteksi dini dengan pemberian makanan tambahan (PMT) selama 2 minggu sampai 1 bulan. Dan melalui pemberian Pangan Olahan Untuk Kondisi Medis Khusus (PKMK), yang hanya bisa diberikan di Rumah Sakit,” pungkasnya. (*)
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi











