TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengungkapkan kasus pengusiran hingga pengeroyokan mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) saat menggelar doa bersama tidak semenakutkan yang digambarkan di media sosial (medsos).
Menurut Benyamin, sebetulnya kasus tersebut terbilang sederhana, hanya saja berita yang sampai di medsos viral, kemudian dibesar-besarkan, hingga menyulut reaksi semua pihak.
“Kejadian itu mah sederhana, tapi di medsos gila-gilaan. Beritanya begini begitu, orang gak boleh beribadah. Tidak seperti itu. Sampai Kapolri dan Menteri Agama turun, kayak mau kiamat. Tidak seperti itu kejadiannya, ramai di medsos doang,” ujar Benyamin saat memberikan sambutan di kegiatan penyelenggaraan statistik sektoral, yang diadakan Dinas Kominfo Tangsel, di Hotel Pranaya, BSD Serpong, Rabu, 15 Mei 2024.
Benyamin mengatakan, berkaca pada kasus pembubaran doa di Babakan, Kota Tangsel, ia mengimbau kepada seluruh pegawai di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel untuk mengambil pelajaran dari kasus ini.
Menurutnya, pegawai Pemkot Tangsel harus lebih hati-hati dan bijak dalam menyikapi informasi di medsos dan tidak ikut-ikutan menambah panas persoalan dengan membubuhi komentar sarat akan perpecahan.
“Makanya saya minta kita sebagai ASN, pintar dalam memilih informasi dan tahan jari-jari tangan kita untuk berkomentar yang tidak perlu,” jelasnya.
Menurut Benyamin, teknologi yang berkembang saat ini seperti menjadi pisau bermata dua. Jika tidak bisa mengendalikan teknologi, maka teknologi yang mengendalikan seseorang.
“Dunia kita sekarang dipengaruhi teknologi, jadi seberapa bisa kita mengendalikan teknologi,” jelasnya.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Aas Arbi











