SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pekan ini, beras dan ayam ras cenderung menjadi pemicu inflasi di Banten. Hal itu diungkapkan Plh Sekda Banten Virgojanti usai mengikuti rapat koordinasi pengendalian inflasi secara daring di gedung Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Senin, 20 Mei 2024. Rapat tersebut dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Tomsi Tohir.
Kata dia, saat ini inflasi di Banten berada di angka 3,42 persen. Sedangkan nasional 3 persen. Angka inflasi di lima daerah yang menjadi survei inflasi yakni Kabupaten Lebak Kabupaten Pandeglang Kota Serang Kota Cilegon dan Kota Tangerang masih di atas 3 persen. Sedangkan inflasi tertinggi di Kabupaten Pandeglang 3,9 persen. “Target pusat 3 plus minus 1,” ungkapnya.
Kata dia, Banten tidak masuk 10 besar inflasi tertinggi di Indonesia. Tetapi tetap harus antisipasi. “Penyebab inflasi di minggu ini, beras. Kemarin-kemarin gak masuk,” tutur Virgojanti.
Berdasarkan hasil survei di setiap daerah, beras dan ayam ras cenderung menjadi penyebab inflasi dan hal itu juga terjadi di tingkat nasional. “Saya minta OPD terkait untuk melakukan langkah koordinasi dan Pemda kabupaten dan kota untuk sama-sama untuk mengendalikan inflasi,” tegasnya.
Ia juga meminta langkah-langkah evaluasi terkait upaya yang sudah dilakukan untuk intervensi pengendalian inflasi, gerakan menanam dan operasi pasar. “Saya juga minta ke Distan mengevaluasi data daftar rencana tanam dan panen,” ungkapnya.
Virgojanti mengaku beras di Banten bukan tidak ada. “Tapi sudah masuk panen. Saya minta ke Bulog, jangan sampai yang beli tengkulak luar,” tegasnya.
Namun, lanjut dia, harga pembelian pemerintah (HPP) sekira Rp6 ribu. Sedangkan Bulog membeli di angka Rp5.300. Kata dia, apabila ada tengkulak yang menawarkan harga lebih tinggi, maka pihaknya juga tak bisa melarangnya. Apalagi, tengkulak tidak bisa dibatasi.
Untuk itu, sebagai pemerintah, Virgojanti mengaku pihaknya menjaga stabilitas harga dengan beras SPHP. (*)
Editor: Bayu Mulyana











