Oleh : DR. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc., Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya : “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (QS. Al Hujurat :13)
Safari Ibadah
Hari Arafah adalah hari kesembilan dalam bulan Zulhijah dan merupakan hari kedua dalam ritual ibadah haji. Dalam ajaran Islam, Hari Arafah merupakan hari yang istimewa karena pada hari itu Allah Swt. membanggakan hamba-Nya yang berkumpul di Arafah kepada para malaikat. Arafah merupakan nama sebuah gunung, tempat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. menyeru di depan kaumnya untuk yang terakhir kali.
Hari Arafah merupakan waktu bagi jemaah haji melaksanakan wukuf di Arafah, mulai dari terbenamnya matahari (waktu zhuhur) pada tanggal 9 Zulhijah sampai fajar terbit pada tanggal 10 Zulhijah. Bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan haji, disunahkan untuk melaksanakan Puasa Arafah saat tanggal 9 Zulhijah. Dalam sabda Nabi Muhammad saw, yang artinya: “Puasa hari Arafah itu menghapus dosa dua tahun : satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.
Wukuf di Arafah merupakan safari ibadah juga berkesempatan bagi jamaah haji untuk memohon pengampunan dan bertaubat kepada Allah. Dalam tradisi Islam, Arafah dianggap sebagai tempat di mana Nabi Adam dan Hawa bertemu setelah diturunkan ke bumi dan memohon pengampunan kepada Allah.
Wukuf di Arafah memiliki makna dan filosofi yang dalam dalam ibadah haji. Ritual ini mengajarkan pentingnya pengampunan, taubat, persatuan, persaudaraan, persiapan untuk akhirat, dan kekuatan doa. Selama wukuf di Arafah, jamaah haji dianjurkan untuk merenungkan makna dan tujuan di balik ritual ini, serta memanfaatkan waktu tersebut untuk beribadah dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.
Setelah pelaksanaan wukuf di Arafah hingga terbenamnya matahari pada tanggal 9 Dzulhijjah, seluruh jemaah haji mulai bergerak menuju Muzdalifah untuk Mabit hingga tengah malam. Di Muzdalifah jemaah haji mengambil batu kerikil untuk melontar jumrah saat Mabit di Mina.
Untuk melaksanakan misi ibadah suci, ibadah haji. Banyak orang yang memimpikan. Banyak umat Islam yang tengah berjuang untuk menunggu dipanggil bisa menjalankan rukun Islam yang ke lima. Namun takdirnya, jamaah haji pada saat ini yang diberi kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, bisa beribadah, bersimpuh, dan berdoa di tempat yang mustajabah.
Penghapus Diskriminasi
Padang Arafah menjadi saksi dihapusnya segala bentuk diskriminasi yang berarti telah mendahului Piagam PBB, ratusan tahun. Dari padang Arafah, beliau mengumumkan bahwa praktik ekonomi yang dzalim berupa riba’ renten beliau mengumumkan dengan tegas bahwa praktik ekonomi yang buruk itu telah dihapus. Dan praktik riba yang secara lantang beliau nyatakan telah dihapus adalah riba yang dilakukan oleh paman beliau Sayyidina Abbas RA. Ini menandakan bahwa beliau menjadikan keluarga beliau sebagai teladan.
Wukuf di Arafah adalah salah satu ritual paling penting dalam ibadah haji. Ritual ini dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, di dataran Arafah yang terletak di luar kota Mekah. Wukuf di Arafah memiliki beberapa filosofi yang terkait dengan makna dan tujuan ibadah.
Pertama, Pengampunan dan Taubat: Wukuf di Arafah merupakan kesempatan bagi jamaah haji untuk memohon pengampunan dan bertaubat kepada Allah. Dalam tradisi Islam, Arafah dianggap sebagai tempat di mana Nabi Adam dan Hawa bertemu setelah diturunkan ke bumi dan memohon pengampunan kepada Allah. Wukuf di Arafah mengajarkan pentingnya introspeksi diri, mengakui kesalahan, dan memohon ampunan kepada Allah.
Kedua, Hari Kiamat : Wukuf di Arafah juga melambangkan hari kiamat. Dalam hadis, Nabi Muhammad (SAW) bersabda bahwa “Haji adalah Arafah.” Dalam pandangan ini, wukuf di Arafah dianggap sebagai simulasi hari kiamat, di mana semua manusia berkumpul di hadapan Allah untuk dihisab (perhitungan amal perbuatan). Wukuf di Arafah mengajarkan pentingnya mempersiapkan diri untuk akhirat dan mengingatkan kita akan kebesaran dan keadilan Allah.
Ketiga, Kesatuan dan Persaudaraan: Wukuf di Arafah juga melambangkan kesatuan dan persaudaraan umat Muslim. Pada hari tersebut, jamaah haji dari berbagai negara dan latar belakang etnis berkumpul di Arafah tanpa perbedaan status sosial. Wukuf di Arafah mengajarkan pentingnya persatuan, saling mencintai, dan menghormati sesama Muslim, serta menekankan bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Allah.
Keempat, Doa dan Permohonan: Wukuf di Arafah adalah waktu yang sangat diberkahi untuk berdoa dan memohon kepada Allah. Dalam tradisi Islam, diyakini bahwa doa-doa yang dilakukan di Arafah pada hari tersebut dikabulkan oleh Allah. Jamaah haji menggunakan waktu ini untuk berdoa, memohon ampunan, dan mengungkapkan keinginan dan kebutuhan mereka kepada Allah.
Seluruh jamaah Indonesia termasuk jamaah haji sedunia. Saat ini sedang menjalani prosesi Armuzna. Prosesi itu diawali dari wuquf di padang Arofah pada tanggal 09 Dzulhijjah. Di padang Arofah jamaah haji memperbanyak Dzikir, Istigfar, Shalawat, Talbiyah Juga Bermunajat Kepada Khaliknya bukan hanya berdiam diri hingga matahari terbenam. Didalamnya ada khutbah wuquf ketika matahari sudah tergelincir diatas kepala. Juga dilakukan sholat dhuhur dan asar dengan jamak qosor.
Ada dua peristiwa penting yang tidak dapat terlupakan dalam sejarah panjang wuquf di padang Arofah, Pertama adalah tempat dipertemukannya Nabi Adam dan Siti Hawa, setelah diturunkan dari Sorga ke muka bumi oleh Allah karena makan buah khuldi. Disinilah tempatnya, dijabal rohmah, tugunya terlihat dikerumuni jutaan manusia di sana. Sedangkan peristiwa kedua, terjadi ketika Nabiyullah Ibrohim mendapatkan perintah menyembelih putranya Nabi Ismail As, melalui mimpi. Setelah mengalami keraguan, baru pada tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim tahu bahwa mimpinya itu benar perintah Allah. Disebut Arofah karena sudah tahu, tentang kebenaran mimpinya untuk mengorbankan Nabi Ismail, agar disembelih.
Perjalanan menuju Tanah Suci, jamaah aji diharapkan dapat semakin mengenali dirinya sendiri. Semakin banyak kejadian-kejadian yang dialami, diharapkan jamaah haji dapat semakin mengenal diri dan Tuhannya. Semakin baik seseorang mengenal dirinya sendiri, maka akan semakin baik ia mengenal Tuhannya. “Man `arofa nafsahu `arofa nafsahu/siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Bergantung sebaik apa seseorang mengenal dirinya, maka sebaik itu ia mengenal Tuhannya, Ibadah yang terbaik selama wukuf di Arofah adalah berfakkur. Adalah lebih baik bagi jamaah untuk menginsyafi dirinya di hadapan Tuhan, menyadari ketidak berdayaannya di hadapan kemahakuasaan Allah, daripada sekedar mengingat Allah dengan lidahnya. “Perjalanan haji adalah perjalanan penyempurnaan keislaman, karenanya seorang hamba harus berpasrah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Adalah tidak layak bagi seseorang yang sedang dalam perjalanan haji, jika ia merasa dapat memenuhi panggilan Allah karena usahanya sendiri dan kemampuannya dalam mengumpulkan harta misalnya, Bacaan Talbiyah (Labbaikallahumma labbaik) dalam ibadah haji, hanyalah diperuntukkan kepada Allah SWT semata.
Ketika seseorang sudah berniat haji, maka dia hanya menuju kepada Allah semata. Menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT dalam ungkapan Laahaula walaaquwwata illa billahil `aliyyil adzim (tiada daya dan kekuatan dapat digunakan kecuali atas kehendak Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung) “Di lembah Arofah inilah, tempat terbaik bagi seluruh umat Islam dari segenap penjuru dunia untuk mengenal Allah SWT. Hal ini sesuai dengan nama lembah Arofah yang berarti mengenal Allah.
Ibadah haji adalah instrument penting dalam menguatkan sendi-sendi ke-Islam-an yang teraplikasikan dalam keihsanan kepada Allah dan makhluk-Nya. Ibadah haji juga memiliki karakteristik yang paling sempurna dibandingkan dengan ibadah lainnya yang meliputi ruhiyyah (ibadah ruh), jasadiyah (ibadah fisik), dan Mâliyah (ibadah harta). Sehingga seseorang yang melaksanakan ibadah haji berarti telah menyempurnakan seluruh sendi ke-Islam-annya.
Salah satu komponen penting ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Rukun haji ini memiliki karakteristik khusus yaitu terhimpunnya seluruh jamaah dalam satu lokasi, satu waktu, dan satu jenis pakaian. Di Padang Arafah, seluruh hamba Allah berwukuf dengan memakai satu warna dan satu jenis pakaian yaitu kain ihram berwarna putih. Tidak ada perbedaan status sosial di padang Arafah, melainkan kesamaan status sebagai hamba Allah. Tidak terlihat perbedaan suku, melainkan kesamaan aqidah dan tauhid. Tidak ada kebanggaan dengan perbedaan warna kulit, melainkan kesamaan dalam lebur kekerdilan diri. Tidak ada perkataan kotor, perkataan keji, atau ungkapan kesombongan, melainkan kesamaan dalam indahnya munajat permohonan ampunan dan rahmat. Di padang Arafah, semua manusia dari berbagai bangsa dan suku melebur menjadi satu.
Jamaah haji diharapkan dapat meniti kembali ingatannya selama melakukan perjalanan ibadah haji. Dengan mengingat-ingat perjalanan menuju Tanah Suci, jamaah diharapkan dapat semakin mengenali dirinya sendiri. Semakin banyak kejadian-kejadian yang dialami, diharapkan jamaah dapat semakin mengenal diri dan Tuhannya. Wallahu ‘A’lam.
Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM. M.Sc Adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional).











