SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat setidaknya ada 300 bayi di Banten yang meninggal dunia dalam waktu lima bulan sejak Januari sampai Mei 2024. Sedangkan, jumlah kematian ibu sebanyak 80 orang.
Kepala Dinkes Provinsi Banten, dr Ati Pramudji Hastuti mengatakan, meskipun jumlah kematian bayi tinggi, tapi angka itu masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu. “Tapi tetap kita tekan, walaupun tidak mungkin juga zero,” ujar Ati saat pertemuan evaluasi lintas sektor kesehatan ibu dan anak termasuk masalah gizi di Le Dian Hotel, Selasa, 17 Juli 2024 malam.
Dalam pertemuan yang dihadiri empat pemerintah kabupaten/kota itu terungkap bahwa angka kematian bayi di Kabupaten Pandeglang tertinggi yakni 84 orang sejak Januari sampai Juni. Hal itu diungkapkan perwakilan Pemkab Pandeglang pada pertemuan tersebut saat Ati menanyakan jumlah kematian ibu dan bayi per kabupaten dan kota. Kematian bayi paling banyak pada usia 0 sampai 28 hari, karena sang ibu terkena anemia. Sedangkan capaian tablet tambah darah 75 persen. Sedangkan angka kematian ibu sebanyak 15 orang.
Kemudian, di Kota Tangerang Selatan, angka kematian ibu sebanyak tiga orang dan bayi enam orang sejak Januari sampai Mei. Di Kabupaten Tangerang, angka kematian ibu 18 orang dan angka kematian bayi 67 orang sejak Januari sampai Mei. Di periode yang sama, jumlah kematian ibu di Kota Serang sebanyak 11 orang dan jumlah kematian bayi 27 orang.
Ati mengaku berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Provinsi Banten. Salah satunya pemberian tablet tambah darah sebanyal 52 tablet per tahun kepada calon pengantin.
“Ini tidak terlepas dari kesehatan gizi ibu dari mulai remaja bahkan sampai dengan ibu melahirkan. Jadi kenapa di dalam menurunkan angka kematian bayi itu sendiri perlu penanganan sesuai dengan siklus kehidupan dari mulai remaja. Bagaimana mempersiapkan remaja yang sehat tidak animea, khususnya bagi remaja putri,” ujar Ati. Kata dia, orang yang sehat saja dapat kekurangan darah ketika hamil. Makanya pemberian tablet tambah darah selama 90 hari sangat penting.
Ia menerangkan, oksigen itu tidak dapat ikat karena kurangnya zat besi yang ada di dalam darah. “Tentunya ini menyebabkan kekurangan darah yang akhirnya bisa menyebabkan gagal nafas. Jadi bayi yang sekarang ini di kematian bayi yang tertinggi itu yaitu di fase 0 sampai 28 hari. Dan banyaknya disebabkan oleh ibu-ibu yang anemia,” terangnya.
Kata dia, banyak upaya yang dilakukan Dinkes. “Yang tentunya pertama peran dari masing-masing pemerintah dari mulai peran pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten dan kota bahkan sampai di tingkat Puskesmas ini,” ujarnya.
Ati menjelaskan, pemerintah membagi peran sesuai kewenangan dan tupoksinya. Misalnya, pemerintah pusat menyusun berbagai petunjuk teknis serta kebijakan untuk penurunan angka kematian ibu dan bayi, kemudian juga memfasilitasi berbagai kegiatan anggaran baik itu yang sifatnya fisik maupun non fisik. “Yang diturunkan ada yang langsung ke Puskesmas melalui bantuan operasional Puskesmas ataupun melalui dana alokasi khusus yang melalui APBD-nya kabupaten dan kota ataupun APBD provinsi dengan pembangunan ataupun pembelian alat kesehatan. Dan yang non fisik dengan berbagai kegiatan-kegiatan rapat koordinasi sosialisasi ataupun skrining. Dan ini semua tentu dijalankan. Pemerintah provinsi harus memastikan apakah seluruh kabupaten dan kota sudah melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah menjadi ketetapan. Tentu kita melakukan upaya pembinaan,” tuturnya.
Reporter: Rostinah
Editor: Aditya











