PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID–Kekeringan tengah dirasakan masyarakat Kabupaten Pandeglang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kabupaten Pandeglang mencatat, ada 12 kecamatan terdiri dari 63 desa dan 273 kampung kini terdampak dari kekeringan akibat musim kemarau.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Kabupaten Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan, mengungkapkan bahwa 12 kecamatan di wilayahnya kini menghadapi krisis air bersih akibat kekeringan. Hal ini berdasarkan hasil monitoring dan kajian dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD-PK Pandeglang serta Kawasan Rawan Bencana (KRB).
“Sudah ada 12 kecamatan yang terdampak kekeringan. Monitoring tahun 2024 menunjukkan 63 desa, 273 kampung, dan sekitar 37 ribu kepala keluarga (KK) terdampak,” ungkapnya, Senin 19 Agustus 2024.
Dijelaskannya, 12 kecamatan yang mengalami Kekeringan itu diantaranya seperti Picung, Sindangresmi, Panimbang, Sobang, Patia, Sukaresmi, Cibaliung, Sumur, Cibitung, Cigeulis, Angsana, dan Cimanggu.
Ia menyampaikan, status penetapan kedaruratan bencana kekeringan telah memasuki tahap regulasi. Hasil rapat dengan stakeholder telah diserahkan ke bagian hukum untuk proses penerbitan surat keputusan bupati sebagai tindak lanjut.
“Kami sudah rapat dengan stakeholder mengenai status kedaruratan bencana kekeringan. Sekarang, regulasi ini sudah berada di bagian hukum untuk diterbitkan dalam bentuk surat keputusan bupati sebagai tindak lanjut rapat kemarin,” ujarnya.
Dia mengatakan, dari pemetaan yang dilakukan di 12 kecamatan yang dianggap berpotensi mengalami bencana kekeringan, baru 7 kecamatan yang telah mengajukan permohonan bantuan air bersih. Permohonan ini sudah ditindaklanjuti dengan pengiriman air bersih oleh BPBD-PK Pandeglang.
“Jadi, dari 12 kecamatan yang kami kategorikan sebagai potensi rawan kekeringan, hanya 7 kecamatan yang telah mengajukan permohonan bantuan air bersih. Kami sudah mengirimkan bantuan air bersih ke 5 kecamatan, yaitu Sindangresmi, Angsana, Panimbang, Sukaresmi, dan Munjul. Kami berharap, bantuan untuk kecamatan lainnya akan segera menyusul,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui kondisi kemarau semakin mengkhawatirkan dengan dilihatnya sebaran potensi wilayah yang mengalami krisis air bersih di musim kemarau ini.
Menurut Riza, pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk masalah regulasi yang menetapkan status kekeringan serta perlakuan khusus untuk wilayah yang mendesak. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan sumber daya air juga terus dilakukan.
“Regulasi yang menetapkan status kekeringan akan memberikan implikasi perlakuan khusus. Kami sudah menindaklanjuti laporan dari daerah yang mendesak. Kami juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan sumber daya air,” jelasnya.
Dia mengatakan, berdasarkan pantauan BPBD-PK, kondisi kekeringan di Pandeglang sudah mulai menguning meski baru 7 kecamatan yang melaporkan permohonan bantuan air bersih.
“Pantauan kami menunjukkan tanda-tanda kekeringan, meski baru 7 kecamatan yang mengajukan bantuan. Kekeringan ini disebabkan oleh curah hujan yang tidak normal, yang mengakibatkan penurunan cadangan air di bawah tanah,” paparnya.
Riza menambahkan, pihaknya telah siap untuk menangani krisis air bersih di wilayah lain di Kabupaten Pandeglang yang mungkin terdampak lebih parah akibat kemarau panjang ini.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











