Oleh : DR. KH. Encep Safrudin Muhyi. MM., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
Nasihat Guru
Guru sering diistilahkan dengan digugu dan ditiru. Istilah tersebut merupakan istilah yang muncul dari bahasa Jawa yang berarti guru adalah orang yang patut diikuti nasehatnya. Guru, disebut juga guru sekolah atau secara formal disebut pendidik , adalah orang yang membantu siswa memperoleh pengetahuan, kompetensi, atau kebajikan, melalui praktik mengajar
Guru yang memiliki ilmu serta mampu menerapkan ilmunya, memiliki semangat dan dapat mendorong siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai dengan pedoman pamong, yaitu “Ing Ngarsa Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso dan Tut Wuri Handayani”.
Dalam pengertian yang sederhana, guru merupakan orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat tempat tertentu, tidak mesti dilembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di pesantren, masjid, di surau atau musholla dan di rumah. Guru disebut juga seorang pendidik dan pengajar yang berperan penting untuk memberikan pembelajaran di kelas dengan komunikatif.
Dalam konteks pendidikan Islam, guru atau “pendidik” sering disebut dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. Menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, kelima istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing. Guru pun sosok inspiratif yang selalu diingat sepanjang masa. Guru begitu sabar, berdedikasi, bersemangat, dan tidak kenal lelah dalam membimbing juga memberikan nasihat kepada anak didiknya. Guru sebagai tenaga profesional yang memiliki tugas utama untuk mendidik, membimbing, mengajar, mengarahkan, menilai, melatih dan mengevaluasi para peserta didik untuk jalur pendidikan formal pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah.
Guru juga dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa karena profesi ini memberikan kontribusi besar bagi bangsa sehingga layak disebut pahlawan. Namun, guru tidak pernah memperoleh tanda jasa seperti pahlawan-pahlawan nasional. Bahkan, hingga saat ini masih banyak guru yang tidak mendapatkan imbal jasa yang layak. Guru seperti diibaratkan sebagai sebuah lilin yang rela mengorbankan dirinya dengan membakar diri untuk menerangi yang ada di sekitarnya, atau sebagai sebuah teko yang mengisi cangkir (siswa) tidak relevan lagi untuk saat ini.
Adapun motivasi kerja guru adalah kondisi yang membuat guru mempunyai kemauan atau kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan suatu tugas. Motivasi guru akan memberikan energi untuk bekerja atau mengarahkan aktivitas selama bekerja, dan menyebabkan seorang guru mengetahuinya sesuai tujuan pegajaran.
Guru diibaratkan sebagai pelita yang menerangi jalan siswa menuju masa depan yang lebih baik, serta sebagai lentera yang membawa perubahan positif dalam pendidikan. Guru memiliki peran penting dalam pendidikan dan masyarakat. Begitu berat menjadi seorang guru bangsa karena harus memiliki banyak syarat dan kemampuan. Selain menjadi figur teladan moral, mental spiritual, dan sosial-intelektual, guru bangsa itu idealnya memiliki kapabilitas memadai, integritas tinggi, profesionalitas mumpuni, dan aksesibilitas luas dalam memajukan peradaban bangsa.
Dengan demikian Seorang Guru adalah sosok yang harus digugu dan ditiru oleh siswa siswanya. Dengan kata lain Guru Pintar adalah role model yang menjadi panutan. Seorang guru yang dikatakan memiliki kecerdasan emosional yang baik jika mampu mengendalikan diri. Dalam keadaan emosi yang terkendali akan memudahkan Guru Pintar memunculkan motivasi untuk membangun keadaan emosional yang stabil. Keaadan emosi yang stabil memudahkan Guru Pintar untuk terus belajar serta mengembangkan kemampuan diri.
Guru & Tantangan Kurikulum Baru
Seiring kemajuan teknologi dan evolusi kebutuhan dunia kerja, pendidikan di Indonesia semakin mengharapkan peremajaan dalam kurikulum. Setelah kemunculan Kurikulum Merdeka yang menitikberatkan pada kefleksibelan dan kemandirian peserta didik, kini konsep kurikulum berbasis deep learning mulai disuarakan.
Yang dimaksud dengan Kurikulum adalah seperangkat atau suatu sistem rencana dan pengaturan mengenai bahan pembelajaran yang dapat dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar. Intinya kurikulum adalah rencana pembelajaran. Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat dan berkaitan langsung dengan fungsi kurikulum ini wajib memahaminya. Kurikulum muncul dan terus berkembang agar dapat mencapai tujuan pendidikan. Tujuan utama kurikulum adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat menjadi pribadi serta warga negara yang kreatif, inovatif, beriman, dan juga afektif ketika dia berada pada lingkungan masyarakat kelak.
Tujuan utama kurikulum adalah untuk mengembangkan kepribadian anak secara keseluruhan dengan memasukkan materi pelajaran yang ditujukan untuk pengembangan siswa secara keseluruhan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Komponen kurikulum adalah sebagai berikut : Tujuan. Materi. Organisasi/metode dan Evaluasi. Adapun tujuan dari kurikulum untuk mewujudkan pengembangan kepribadian siswa secara holistik – dimensi fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual . Untuk mengembangkan kesadaran dan kepekaan sosial. Untuk mengembangkan pola pikir global dan keragaman perspektif dan pandangan. Unsur dari kurikulum, Setiap kurikulum terdiri dari beberapa komponen : tujuan, sikap, waktu, siswa dan guru, analisis kebutuhan, aktivitas kelas, materi, keterampilan belajar, keterampilan berbahasa, kosakata, tata bahasa, dan penilaian.
Pentingnya peranan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum merupakan salah satu komponen yang penting dalam penyelanggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum adalah suatu rencana yang dijadikan sebagai pedoman atau Pegangan dalam kegiatan proses belajar mengajar.
Tantangan yang dihadapi dalam upaya pengembangan kurikulum antara lain : Perubahan Teknologi, Kesenjangan Akses, Pembelajaran Inklusif, Evaluasi yang Berkelanjutan, Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Pembelajaran Aktif. Kurikulum Fleksibel, Pendekatan Multidisiplin untuk Pengembangan Kurikulum. Tantangan Guru Dalam Mengajar. Diantaranya, Sulit Menciptakan Komunikasi yang Efektif, Harus Menguasai Semua Materi, Menghadapi berbagai Karakter Murid, Memahami Gaya Belajar Murid dan Manajemen Waktu. Salah satu tantangan yang paling umum dan mendesak bagi guru di kelas adalah kenyataan bahwa beberapa siswa tidak menerima dukungan yang memadai di luar kelas . Meskipun guru dapat bekerja dengan siswa saat mereka berada di sekolah, siswa juga memerlukan dukungan dari orang tua mereka.
Dilandasi keyakinan epistemologis bahwasanya proses pendidikan merupakan fenomena pembentukan manusia seutuhnya sesuai dengan kodratnya, maka diperlukan upaya konstruktif yang mengarah pada pencapaian tujuan itu. Seiring dengan hal itu pemerintah melalui kementerian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi (Kemdikbudristek) telah melakukan upaya mendasar dan progresif yakni merubah kurikulum pembelajaran dari kurikulum 2013 menjadi kurikulum merdeka dan akan diterapkan kurikulum deeplearning. Tujuannya tidak lain untuk penguatan peran kurikulum dalam proses transformasi pendidikan di era saat ini dan masa yang akan datang.
Tantangan dan tanggung jawab itu tentunya perlu direspon secara kritis dan komprehensif oleh para pemangku kepentingan khusus pihak satuan pendidikan, apabila menginginkan tujuan ideal penerapan kurikulum baru tercapai. Dalam kaitannya dengan hal itu, setidaknya terdapat beberapa tantangan yang perlu direspon oleh kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran di satuan pendidikan, agar dalam pelaksanaan kurikulum baru dapat berjalan secara efektif dan efesien.
Konten kurikulum berdasar pada kompetensi, pelaksanaan pembelajaran yang fleksibel dan karakter pelajar pancasila. Sedangkan spiritnya, pihak satuan pendidikan, guru dan peserta didik diberikan keleluasaan untuk pengembangan proses pembelajaran. Satuan pendidikan juga didorong dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak pemangku kepentingan seperti dunia industri, perguruan tinggi, praktisi dan masyarakat untuk mewujudkan merdeka belajar. Penerapan kurikulum selain untuk memberi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pada kualitas manusia Indonesia dan problem pendidikan selama ini, secara spesifik juga dimaksudkan untuk mendorong agar peserta didik dalam pembelajaran mampu berkembang sesuai dengan minat, bakat, potensi dan kebutuhan kodratinya.
Peserta didik juga diberikan keleluasaan untuk menjadi subyek dan bagian dari agen perubahan dalam proses pembelajaran. Dalam proses penerapannya, tentunya tidak semudah yang dibayangkan, tetapi didapatkan berbagai tantangan yang perlu di elaborasi dan dipecahkan untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional dalam kerangka kurikulum baru.
Tantangan dan tanggung jawab itu tentunya perlu direspon secara kritis dan komprehensif oleh para pemangku kepentingan khusus pihak satuan pendidikan, apabila menginginkan tujuan ideal penerapan kurikulum tersebut dapat tercapai. Tantangan kesiapan sumber daya manusia (guru) sebagai pilar utama pelaksanan kurikulum. Eksistensi guru dalam penerapan kurikulum merupakan sebagai lokomotif dan penggerak keberhasilan berbagai program.
Pelaksanaan project penguatan profil pelajar pancasila dan asesmen pembelajaran serta pemberdayaan teknologi sebagai alat pendukung pembelajaran. Karena itu, itu penguatan keberadaan guru melalui program pengembangan sesuai kebutuhan perlu dilakukan secara terus menerus dan konsisten, apalagi jika melihat hasil program pengembangan profesi guru selama ini belum memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan mutu kualitas di Indonesia.
Selamat Hari Guru Semoga Sukses

Penulis Adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.












