LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Bencana pergerakan tanah di Kabupaten Lebak telah berdampak besar pada pemukiman masyarakat, menutup akses jalan utama dan merusak sejumlah rumah warga.
Diketahui awal pergerakan tanah dipicu hujan lebat selama beberapa hari terakhir ini di Kabupaten Lebak yang menyebabkan longsor di longsor di beberapa wilayah di Lebak, pada Rabu 18 Desember 2024.
Diketahui kejadian di Cihara dan Bayah, mengulang bencana pergerakan tanah yang kelam di Desa Curugpanjang, Kecamatan Cikulur, pada tahun 2022 silam. Menindaklanjuti kejadian tersebut, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak akhirnya menggandeng Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kepala Pelaksana BPBD Lebak, Febby Rizki Pratama mengungkapkan, pasca kejadian bencana longsor dan pergerakan tanah, pihaknya bersurat kepada Badan Geologi untuk mengecek penyebab bencana tersebut yang terjadi di beberapa kecamatan di Lebak.
“Setelah berkirim surat, pihak geologi menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan penelitian wilayah-wilayah yang terjadi bencana longsor dan pergerakan tanah itu,” ungkap Febby melalui telepon, Rabu (18/12).
Dikatakan Febby, beberapa lokasi yang dilakukan penelitian itu di antaranya di Kecamatan Cilograng, Bayah, Panggarangan dan Kecamatan Cihara. Menurutnya, proses penelitian yang dilakukan, mulai dari kondisi lahan, jenis tanah, posisi longsoran dan sebagainya.
“Penelitian ini dilakukan melalui darat dan udara, tujuannya untuk memastikan penyebab bencana itu apa dan apakah lahan itu masih layak atau tidak untuk ditempati penduduk,” katanya.
Lanjut Febby, proses penelitian dilakukan selama 5 hari mulai dari hari Jumat (13/12). Menurutnya mudah-mudahan dalam waktu satu atau dua minggu kedepan hasilnya bisa keluar.
“Hari terakhir penelitian, para tim sudah kembali membawa sampel-sampel dari lapangan, dan sekarang tinggal menunggu hasilnya seperti apa,” ujarnya.
Saat ditanya apakah ketika hasil penelitian itu lokasi-lokasi pergerakan tanah dan longsor tersebut tidak layak lagi dijadikan permukiman warga. Febby mengaku, jika lokasi longsor sudah tidak layak lagi dijadikan tempat tinggal maka warga itu akan direlokasi ke tempat yang lebih aman.
“Iya, kita akan kasih pilihan opsi relokasi terpusat dan mandiri kepada masyarakat terdampak. Namun tergantung juga kesediaan lahannya, apakah di desa itu ada lahan bengkok atau lahan pemerintah yang bisa digunakan relokasi warga,” bebernya.
Ia menambahkan, jumlah rumah warga yang terdampak bencana pergerakan tanah dan longsor yang terjadi di sejumlah kecamatan itu sebanyak 310 rumah, dengan rincian sebanyak 152 rusak ringan, 15 rusak sedang dan 143 rusak berat.
“Masyarakat yang terdampak sekarang ini ada yang tinggal di tempat pengungsian, ada juga yang mengungsi di rumah saudaranya masing-masing,” tuturnya.
Editor: Abdul Rozak











