PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID–Fotografi bukan sekadar hobi bagi Tatang (26), pemuda asal Kecamatan Saketi, Pandeglang.
Berkat kemajuan teknologi, ia menjadikan fotografi dan videografi sebagai peluang bisnis yang menguntungkan.
Tatang mengaku, awal mula ia terjun ke dunia ini bukan karena hobi, melainkan melihat potensi bisnis yang menjanjikan.
Menurutnya, generasi muda yang melek teknologi lebih mudah memanfaatkan peluang ini.
“Sebenarnya bukan karena hobi, tapi saya melihat peluang bisnisnya. Anak muda yang paham teknologi punya keunggulan dibanding generasi sebelumnya,” ungkap Tatang, Jumat 24 Januari 2025.
Dari bisnis ini, Tatang berhasil meraih omzet hingga Rp23 juta per bulan. Ia menilai fotografi dan videografi memiliki daya tarik utama dalam mendokumentasikan momen-momen berharga.
“Dokumentasi itu penting. Setiap momen bisa jadi kenangan yang dilihat ulang. Saya mulai tertarik sejak 2014, tapi baru serius menekuni pada 2016,” imbuhnya.
Berawal dari coba-coba saat masih sekolah, Tatang kini fokus pada fotografi travel dan wedding.
Menurutnya, kedua jenis ini memberikan pengalaman bertemu orang baru sekaligus suasana berbeda di setiap proyek.
Ia juga memanfaatkan media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Instagram sebagai referensi dan inspirasi.
Menurutnya, dua hal utama dalam memulai fotografi adalah alat yang tepat dan kemauan kuat.
“Kemauan harus jadi prioritas, baru kemudian asah skill-nya. Tanpa itu, sulit berkembang,” tambahnya.
Tatang lebih menyukai kamera aksi karena praktis, namun ia juga mengakui keunggulan kamera profesional untuk kebutuhan serius.
“Untuk dokumentasi pribadi, kamera smartphone seperti iPhone 15 Pro sudah cukup. Tapi kalau untuk proyek profesional, kualitas kamera profesional tetap lebih baik,” ucapnya.
Tatang menekankan, pemilihan alat kamera harus disesuaikan dengan kebutuhan proyek.
“Alat kamera harus sesuai dengan jenis acara yang dikerjakan,” tuturnya.
Tatang mengaku setiap kali menghadapi tantangan dari pelanggan yang kerap menuntut kualitas tinggi tanpa memahami biaya dan kompleksitas prosesnya.
“Kadang mereka nggak paham harga alat yang kita pakai. Mereka pikir cukup tekan tombol dan langsung kirim hasilnya, padahal prosesnya nggak semudah itu,” jelasnya.
Meski begitu, semangat Tatang tak surut. Baginya, yang terpenting adalah berkarya dengan cara yang halal tanpa merugikan orang lain.
“Prinsipnya, kita berkarya tanpa merugikan dan mencurigai orang lain. Karya kita harus datang dari hal yang baik,” tegasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











