LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak terus berupaya mencari solusi untuk mengatasi banjir yang sering melanda wilayah Lebak, setiap tahun.
Banjir yang terjadi setiap musim hujan merusak infrastruktur, mengganggu aktivitas masyarakat, dan berdampak pada sektor ekonomi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lebak, Febby Rizki Pratama, menyampaikan, melalui berbagai kajian dan inisiatif, Pemkab Lebak kini mengusung konsep yang lebih inovatif dan berkelanjutan dalam penanggulangan banjir.
Salah satu upaya utama yang tengah dijalankan adalah pembentukan Kampung Siaga Bencana dan Desa Tangguh Bencana.
“Kalau penanganan banjir kan ada dua hal, mitigasi struktural dan mitigasi nonstruktural. Nah, kalau banjir, mitigasi struktural itu sendiri ranahnya bersama Dinas PUPR, Perkim, dan Baperida. Salah satunya penanganan-penanganan di wilayah-wilayah perkotaan itu pertama untuk mitigasi struktural,” kata Febby kepada Radabanten.co.id melalui telepon, Selasa, 25 Maret 2025.
Febby menjelaskan, untuk penanganan mitigasi nonstruktural, yakni menyelaraskan dengan program Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya. Program tersebut berupa penangan banjir di beberapa wilayah di Lebak.
“Pak Bupati ingin menekankan terhadap misalnya pembentukan Desa Tangguh, ataupun Kampung Siaga Bencana. Jadi pak Bupati ingin masyarakat-masyarakat yang ada di desa atau di wilayah-wilayah yang memiliki potensi risiko banjir, mereka mengetahui wilayahnya, bisa memitigasi wilayahnya,” terangnya.
“Kemudian kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat siapa berbuat apa, siapa melakukan apa, sehingga masyarakat punya tanggung jawab dan punya kepedulian terhadap wilayahnya sendiri. Jadi pak Bupati tahun ini rencananya ingin membentuk Desa Tangguh Bencana di wilayah Wanasalam,” sambung Febby.
Di Lebak, ada 14 kecamatan rawan banjir, di antaranya, Kecamatan Rangkasbitung dan Wanasalam.
Berdasarkan data BPBD Lebak, banjir di Lebak disebabkan dua faktor, yakni luapan sungai dan drainasie yang tidak berfungsi di wilayah perkotaan.
“Kalau pak Bupati, fokus di perkotaan, misalnya di wilayah Kota Rangkas, bagaimana Kota Rangkas ini juga bisa terbebas dari banjir setiap hujan, drainase berfungsi dengan baik, kemudian serapan juga berfungsi dengan baik untuk wilayah perkotaan,” ucapnya.
Ditanya terkait anggaran banjir, Febby mengatakan, hal tersebut belum ada pembahasan, nanti akan dilakukan koordinasi terlebih dahulu bersama Bupati, Dinas PUPR dan Bapeda.
“Nah kalau anggaran belum ada, nanti belum ada pembahasan lagi bersama PUPR dan Bupati,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











