SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kepala Desa Tegalmaja, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang Muhamad Ikhsan membuat inovasi dengan mengolah limbah kotoran kerbau dari hewan ternak milik warganya menjadi pupuk kompos.
Memanfaatkan lahan kosong di halaman rumahnya, Ikhsan mendirikan bangunan berukuran 5×10 meter yang dijadikan tempat untuk memproduksi kompos.
Di sana ditempatkan satu buah mesin untuk mencampurkan sekaligus menghaluskan bahan-bahan untuk kompos, seperti kotoran hewan, jerami hingga sekam.
Muhammad Ikhsan mengatakan, mulanya, ia terinspirasi membuat tempat pengolahan pupuk kompos lantaran di wilayahnya ada banyaknya peternakan kerbau.
Limbah yang dihasilkan yakni kotoran kerbau, belum termanfaatkan dengan baik dan menjadi permasalahan di lingkungan. Ia pun bersama dengan temannya memiliki ide untuk mengolahnya menjadi pupuk kompos.
“Di salah satu kampung Tegalmaja ini banyak peternakan kerbau tradisional yang membuat kotor lingkungan, makannya terfikir agar tantangan ini menjadi peluang, karena searah dengan program ketahanan pangan yang membutuhkan pupuk,” katanya, Minggu 30 Maret 2025.
Selain itu, Ikhsan mengaku merasa tergerak uuntuk memproduksi pupuk organik karena saat ini belum banyak yang memproduksi pupuk organik serta banyak nya petani yang justru menggunakan pupuk kimia.
“Kita ngambil dulu bahan-bahanya dari peternak di kampung-kampung, dari mulai proses penggilingan terus difermentasikan selama satu minggu, lalu dikemas. Dalam satu minggu bisa menghasilkan satu sampai tiga ton kompos. Mesin penggiling nya kita dikasih dari DKPP Kabupaten Serang,” ungkapnya.
Ikhsan mengaku, dalam satu hari sebenarnya ia bisa memproduksi hingga 2 ton bahan untuk pembuatan pupuk organik. Namun, karena proses fermentasi yang cukup lama serta kondisi cuaca yang tidak menentu membuat proses produksi tidak bisa dilakukan dengan maksimal.
“Ini kita coba dengan alat sederhana, terus kita coba maksimalkan. Proses fermentasi kurang lebih 1 minggu ketika cuaca baik,” tegasnya.
Pupuk kompos yang dibuat ikhsan kini sudah banyak dipastikan, mulai dari ke petani, penjual tanaman hias. Tak hanya itu, Ikhsan juga memasarkan produk-produknya itu ke instansi seperti ke Polres Serang dan ke DKPP Kabupaten Serang untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
“Paling kendalanya ketika musim hujan saja, karena bahan dasar kotoran hewannya itu basah, jadi tidak bisa digiling. Untuk harga jualnya Rp20.000 per kemasan isi 10 kilogram,” ujarnya.
Ikhsan mengatakan, telah mulai memproduksi pupuk kompos sejak bulan Agustus 2024 lalu. Selama kurang lebih delapan bulan mengolah pupuk kompos, ia telah memproduksi sebanyak 30 ton pupuk kompos.
“Ada dua orang pekerja yang mengolah pupuk kompos. Saat ini sudah menjual sebanyak 30 ton pupuk kompos selama kurun waktu delapan bulan,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











