RADARBANTEN.CO.ID – Monumen Nasional atau yang lebih dikenal Monas merupakan tugu tinggi yang menjadi icon dari Kota Jakarta maupun Indonesia. Tugu ini sering kali dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun asing.
Monas dibangun pada 1961. Daya tariknya terletak di bagian ujung karena terdapat simbol api berwarna kuning keemasan yang dilapisi oleh emas asli.
Di balik keindahan emas Monas dan daya tariknya, ada kisah tersendiri yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat.
Ingin tahu lebih detail mengenai emas di tugu monas, termasuk beratnya? Berikut selengkapnya di pembahasan berikut ini menurut laman resmi sahabat pegadaian.
Asal Emas Monas
Berdasarkan sejarah, pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961 pada masa Presiden Republik Indonesia yang pertama, yaitu Ir. Soekarno.
Pembiayaan pembangunan Monas yang berlangsung pada 1961-1965 berasal dari sumbangan masyarakat. Prosesnya dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
Tahap pertama: 1961-1965
Tahap kedua: 1966-1968
Tahap ketiga: 1969-1976
Sebelum pembangunan, Ir. Soekarno menyeleksi desainer terbaik melalui pengadaan sayembara. Pemenangnya adalah Friedrich Silaban.
Friedrich kemudian dibantu oleh arsitek lainnya, yakni Soedarsono serta Rooseno, dalam pengerjaan proyek pembangunan tersebut.
Pada awalnya, tugu yang dibangun akan dinamakan Tugu Peringatan Nasional, namun diubah menjadi Monumen Nasional. Pembangunan tugu ini memerlukan dana sebanyak Rp7 miliar.
Dengan asumsi bahwa nilai 1 dolar AS pada 1960-an setara dengan Rp125, maka nilainya mencapai Rp266 triliun apabila dihitung menurut kurs dolar sekarang.
Peresmian Monas dilakukan oleh Presiden Soeharto pada 12 Juli 1975 yang menjadi penanda bahwa Monas resmi dibuka untuk masyarakat umum.
Monas merupakan tugu berbentuk Lingga-Yoni, yaitu berdiri tegak dengan cawan yang berfungsi sebagai wadah di bagian bawahnya.
Bentuk Lingga-Yoni adalah simbol hubungan sakral antara perempuan dan laki-laki serta melambangkan kesuburan.
Sementara itu, puncak Monas yang berbentuk lidah api merupakan simbol semangat perjuangan bangsa Indonesia. Lidah api tersebut yang diketahui dilapisi oleh emas asli.
Emas Monas sendiri berasal dari Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu.
Desa tersebut populer dengan tambang emas, bahkan hingga kini. Kendati demikian, penyumbang emas Monas yang terbesar justru seorang pengusaha dari Aceh.
Pengusaha tersebut bernama Teuku Markam yang merupakan keturunan Uleebalang (Kepala Daerah dalam Kesultanan Aceh). Beliau diperkirakan lahir sekitar tahun 1925.
Teuku Markam diketahui menyumbang sekitar 28 kg emas. Teuku Markam dikenal sebagai pengusaha kaya raya dan sukses di awal kelahiran Indonesia.
Beliau cukup dekat dengan Presiden Soekarno dan sejumlah pejabat. Bahkan. Namanya pun pernah disebut-sebut sebagai ‘Kabinet Bayangan’ pada masa pemerintahan era Orde Lama.
Teuku Markam memang sejak muda sudah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau menyandang lulus wajib militer di Koetaradja dengan pangkat Letnan Satu.
Setelahnya, Teuku Markam bergabung bersama TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan ikut bertempur di Medan Area, Sumatra Utara.
Kariernya sebagai pengusaha dimulai ketika mendirikan perusahaan perdagangan, seperti PT Karkam yang sekarang menjadi bagian BUMN dan dikenal dengan nama PT Berdikari.
Bisnisnya yang semakin meluas membuat Teuku Markam mempunyai sejumlah aset berharga, seperti kapal dan beberapa galangan kapal di Jakarta, Medan, Surabaya, Palembang, serta Makassar.
Beliau pun terjun di dunia ekspor dan impor ke sejumlah negara, mulai dari impor mobil Toyota Hardtop Jepang, plat baja, besi beton, hingga senjata atas persetujuan dari Departemen Pertahanan dan Keamanan serta Ir. Soekarno.
Hasil bisnis dari Teuku Markam inilah yang menjadi salah satu sumber APBN. Tidak hanya berpartisipasi dalam penyumbangan emas Monas, Teuku Markam pun turut serta dalam berbagai proyek pembangunan infrastruktur.
Teuku Markam juga pernah membebaskan lahan bagi proyek Istora Senayan, merekonstruksi jalan darat di pesisir Timur Aceh, membangun infrastruktur di Jawa Barat, Aceh, dan lain-lain.
Berapa Berat Emas di Tugu Monas?
Selain lidah api, terdapat bagian lain di area Monas yang terbuat dari emas. Namun, diketahui berat bagian lidah api Monas adalah 50 kg.
Secara keseluruhan, total berat emas di Monas mencapai 72 kg. Emas seberat 22 kg lainnya terletak di Ruang Kemerdekaan yang melekat di pintu gapura kemerdekaan burung Garuda Pancasila serta Kepulauan Indonesia.
Emas tersebut disimpan di kotak kaca yang juga menyimpan salinan naskah teks proklamasi. Kotak kaca itu pun dihiasi dengan bunga Wijaya Kusuma.
Pernyataan mengenai berat emas di Tugu Monas ini diungkapkan oleh akun sosial media resmi Monumen Nasional pada 15 Agustus 2021.
Editor: Abdul Rozak











