PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tahun ajaran baru sudah dimulai, namun para pedagang seragam sekolah di Pasar Badak, Pandeglang, mengeluhkan sepinya pembeli. Omzet penjualan seragam disebut tak menentu dan jauh dari harapan.
Padahal, biasanya momen awal tahun ajaran jadi waktu panen bagi pedagang seragam. Namun tahun ini, belum terlihat lonjakan pembeli seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Enggak tahu nih, tahun ini sepi banget. Pembelinya belum ada. Enggak tahu juga nanti dari tanggal 1 sampai besok, karena kan tanggal 14 udah masuk sekolah,” kata Cucu, salah satu pedagang seragam sekolah, Selasa 1 Juli 2025.
Ia menyebut, penjualan tahun ini jauh di bawah ekspektasi. Tak ada peningkatan signifikan seperti yang biasa terjadi.
“Tahun kemarin mah bagus, tapi kalau sekarang mah sepi. Melepes ini mah. Enggak tahu deh, mungkin orang-orang lagi enggak punya uang,” sambungnya.
Cucu menduga, sepinya penjualan seragam sekolah di pasar merupakan dampak dari maraknya toko online. Masyarakat, lebih memilih belanja kebutuhan secara online karena menawarkan banyak kemudahan.
“Bisa juga begitu karena dampak toko online. Orang sekarang lebih milih belanja online, kan lebih gampang,” ujarnya.
Padahal, menurutnya, kualitas seragam yang dijual di pasar tak kalah dengan yang ditawarkan di toko online. Ia juga menduga, beberapa sekolah kini menyediakan seragam langsung bagi siswa baru.
“Kami di sini lengkap, ada baju seragam untuk berbagai tingkat sekolah. Kualitasnya juga enggak kalah,” tegasnya.
Cucu mengaku penurunan omzet tahun ini cukup drastis dibanding tahun lalu. Ia mencontohkan, omzet yang biasanya bisa tembus Rp10 juta per bulan, kini tak sampai setengahnya.
“Tahun kemarin mah bagus, sekarang mah Rp5 juta juga enggak nyampe sebulan,” keluhnya.
Ia berharap menjelang masuk sekolah pada pertengahan Juli nanti, penjualan bisa kembali meningkat.
Sementara itu, salah satu pembeli bernama Enah mengatakan, dirinya membeli seragam untuk anaknya yang akan masuk Sekolah Dasar (SD). Namun, ia mengaku membelinya secara bertahap karena harus mengatur pengeluaran untuk keperluan lain.
“Iya ini beli seragam dulu, soalnya uangnya dibagi-bagi. Masih harus beli buku, tas, sama sepatu juga. Jadi enggak bisa sekaligus,” tuturnya.
Editor: Bayu Mulyana











