LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Kondisi prihatin dialami oleh pasangan suami istri Ratna (45), dan suaminya Madsupi (45), bersama empat orang anak warga Kampung Pasir Gemuh, Desa Cigoong Utara, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.
Diketahui pasutri tinggal di saung gubuk terpal berukuran 3×5 meter selama lima tahun setelah bangunan rumah sederhana yang ditempatinya ambruk akibat karena diterjang hujan deras dan angin kencang.
Ratna mengungkapkan, ia tinggal di gubuk tersebut selama lima tahun setelah bangunan rumah sederhana yang dulu ditempatinya ambruk akibat dihantam hujan deras dan angin kencang di Kecamatan Cikulur. “Saya tinggal di sini sudah 5 tahun pak, rumah yang di sana sudah tidak bisa ditempati karena roboh waktu tahun 2019,” kata Ratna saat berada di rumahnya, Selasa 1 Juli 2025.
Bangunan rumah Ratna saat ini hanya terbuat dari kayu berdinding terpal yang sudah usang, sementara dibagian dalam saung gubuk hanya berasalaskan tanah, bahkan pakaian serta perabotan rumah tangga lainya dibiarkan berserakan di mana-mana karena keterbatasan tempat.
Ia menuturkan, pasca kejadian 2019 itu dirinya bersama suami dan ke empat orang anaknya tinggal sementara di saung di wilayah Kecamatan Warunggunung tepatnya di Kampung Sampay, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten.
“Saya tinggal di tempat lahan kosong punya desa di sini, bukan punya saya tapi punya orang lain, saya hanya disuruh nempatin sementara selama saya belum punya rumah,” tuturnya.
Ratna mengungkapkan, terpaksa tinggal di saung terpal itu lantaran tidak memiliki tempat tinggal lain untuk bernaung kelurganya karena faktor ekonomi, terlebih usaha sang suami sebagai tukang tambal ban saat ini terus mengalami penurunan signifikan, bahkan pendapatannya tidak menentu, sementara untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan anak-anaknya terus berjalan.
“Gimana ya pak, hati kecil mah saya bukannya enggak sedih, pengen pulang mah tapi ya mau pulang ke mana, berhubung orang tidak mampu ya mau gimana lagi, hati mah pengen kebikin rumah seperti orang-orang tapi ya mau diapain suami cuma usaha tambal ban, itu juga kadang dapat uang kadang enggak,” ungkapnya.
Pasangan ini hanya bisa pasrah dan berharap adanya perhatian dari pemerintah atau uluran tangan dermawan yang bersedia membantu membangun rumah sederhana di kampungnya atau pun bantuan melalui program sosial seperti bedah rumah tidak layak huni (RTLH).
“Saya berharap sih pemerintah bisa mengusahakan orang yang enggak mampu seperti saya ini, saya ingin punya rumah yang layak yang bisa ditempati dan saya mah berharap tidak yang mewah-mewah yang penting bisa buat pulang,” pungkasnya.
Editor: Bayu Mulyana











