CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID – Mus Mulyadi terlihat segar meski sedang berada di ranjang ruang rawat Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM) Cilegon.
Ia baru saja selesai menjalani operasi pelepasan pen di tulang bahu bagian kiri.
Perban masih terlihat membalut kulit pria berperawakan kurus tersebut.
Sebelumnya, warga Pondok Cilegon Indah, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon itu menjalani rangkaian penanganan medis selama satu tahun satu bulan.
Mus bercerita, penanganan medis itu berawal pada 9 Mei 2024 lalu, saat itu Ia sedang memperbaiki genteng rumahnya.
Naas, saat hendak turun, Mus terpeleset dan jatuh hingga mematahkan tulang bahu bagian kiri.
Merasa sakit di bagian kiri tak kunjung sembuh, keesokan harinya, Mus langsung ke RSKM Cilegon untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Setelah mendapatkan pemeriksaan, Mus ternyata harus menjalani operasi karena tulang bahunya alami patah.
“Langsung dioperasi dan pasang pen,” tutur Mus bercerita.
Penanganan medis tak selesai sampai operasi pemasangan pen. Mus juga harus periksa secara rutin setiap satu bulan sekali untuk melihat perkembangan tulangnya.
Setelah kurang lebih satu tahun satu bulan, akhirnya kondisi tulang Mus sudah kembali rapat dan baik sehingga bisa dilakukan prosedur pelepasan pen.
“Sekarang lepas pen. Alhamdulillah sudah sembuh,” tuturnya.
Seluruh rangkaian upaya medis yang diterima Mus sepenuhnya dicover oleh BPJS Kesehatan.
Karyawan salah satu pabrik swasta di Kota Cilegon ini mengaku tak mengeluarkan uang sepeserpun.
“Operasi, rawat jalan, sampai rawat inap dan sekarang pelepasan pen juga dicover semua,” ujarnya.
Selain seluruh biaya dicover BPJS Kesehatan, Mus mengaku mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari pihak rumah sakit.
Menurutnya, sebagai peserta BPJS Kesehatan, Ia mendapatkan pelayanan yang sangat baik dan ramah.
Tidak ada kesan buruk yang dirasakan Mus selama menjalani pengobatan.
“Gak dapat pelayanan kurang, bagus semua. Mantap lah BPJS Kesehatan,” tuturnya.
Karena itu, Mus mengajak masyarakat untuk tak ragu menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Ia menilai program itu sangat terasa manfaatnya saat dalam keadaan darurat seperti yang dirasakannya.
Jika tanpa BPJS Kesehatan, biaya yang perlu dikeluarkan sangat besar dan pasti akan membebani keuangan.
Mus pun mengajak semua peserta BPJS Kesehatan, terutama peserta mandiri untuk rutin membayar iuran karena meski tak dirasakan sendiri hal tersebut membantu peserta lain.
Menurut mus, sial atau pun apes selalu datang tanpa diduga, begitu juga dengan musibah ataupun sakit.
Dengan memiliki BPJS Kesehatan, saat saat yang tak terduga itu bisa disikapi dengan tenang tanpa harus memikirkan uang untuk pengobatan.
Anggota keluarga pun akan menjadi lebih tenang tanpa hawatir tak bisa mendapatkan pelayanan medis yang memadai.
Mus mengaku sudah merasakan kondisi tersebut. Selain menimpa dirinya, anaknya pun pernah merasakan momen harus mendaparkan penanganan medis secara serius.
Beruntung, meski tidak dicover perusahaan, Mus mendaftarkan anaknya sebagai peserta mandiri.
Mus juga berharap agar program jaminan kesehatan BPJS Kesehatan tetap bisa dipertahankan.
Ia meminta kepada pemerintah agar jangan membubarkan program tersebut karena alasan apapun. (*)











