PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Bahasa bukan cuma soal komunikasi. Di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, istilah lokal seperti ‘orok’ justru jadi cerminan eratnya hubungan sosial warga.
Secara umum, ‘orok’ dalam bahasa Sunda berarti bayi. Tapi di Menes, makna kata ini jauh melampaui arti biologisnya.
Di sana, ‘orok’ jadi sapaan akrab yang biasa digunakan masyarakat dalam percakapan sehari-hari, baik kepada anak kecil maupun orang dewasa. Sapaan ini tumbuh menjadi bagian dari tradisi tutur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Founder komunitas budaya Menes Heritage, Nanda Maulana atau yang akrab disapa Jendol, mengatakan bahwa istilah ‘orok’ sebagai penanda penting dalam budaya lokal.
“Di Menes, ‘orok’ bukan sekadar bayi. Tapi bentuk keakraban dan kekeluargaan,” kata Nanda, Jumat 11 Juli 2025.
Menurut Nanda, sapaan ini sering muncul dalam percakapan informal antarwarga. Misalnya, saat menyapa teman atau kerabat dalam suasana santai, kata ‘orok’ kerap disisipkan untuk menunjukkan kedekatan.
Contohnya, kata Nanda, dalam kalimat seperti ‘Ceng, orok mah keur meta lalayangan di sawah, yang artinya. Nak, teman-temanmu sedang main layangan di sawah’. Kalimat itu tidak hanya informatif, tapi juga penuh kehangatan.
Atau dalam canda-candaan sehari-hari, warga biasa bilang, ‘Orok Menes mah ngopina jeung balok,’ yang artinya orang Menes itu biasa ngopi dengan kue balok. Ungkapan ini menggambarkan gaya hidup sederhana yang akrab dan merakyat.
Bagi warga Menes, sebutan ‘orok’ bukan untuk merendahkan, tapi justru memperlihatkan keakraban, humor, dan rasa saling memiliki. Bahasa di sini jadi jembatan emosional, bukan sekadar alat bicara.
Sapaan bahasa seperti ini, kata Nanda, lahir dari karakter masyarakat Menes yang guyub dan egaliter. “Bahasa seperti ‘orok’ jadi simbol kedekatan, bukan sekadar sapaan biasa,” ujarnya.
Sayangnya, tradisi tutur seperti ini jarang terdokumentasi secara formal. Padahal, praktik ini hidup dan berkembang dalam keseharian masyarakat.
Nanda menyebut penggunaan istilah ‘orok’ sebagai bukti bahwa bahasa lokal masih punya daya hidup yang kuat.
“Ini bagian dari identitas kita. Bahasa adalah warisan budaya yang harus dirawat,” katanya.
Lewat kata ‘orok’, masyarakat Menes memperlihatkan bahwa bahasa bisa menjadi perekat sosial dan penegas identitas. Tradisi ini menandakan bahwa di balik sapaan sederhana, tersimpan nilai budaya yang kuat dan menyatukan.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Aditya











