SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-26, Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK-LMND) Kota Serang menggelar dialog publik bertema pendidikan, dengan fokus utama pada persoalan anak tidak sekolah (ATS) di Kota Serang.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Juang, Kota Serang, Jumat 11 Juli 2025, dihadiri oleh sejumlah aktivis mahasiswa dan tokoh pemuda. Mereka membahas berbagai solusi untuk mengatasi tingginya angka ATS di ibu kota Provinsi Banten.
Ketua LMND Kota Serang, Aji Maulana mengatakan, masalah ATS bukan hal baru, namun tetap menjadi isu mendesak yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa.
“Masalah anak tidak sekolah adalah urgensi yang harus segera dituntaskan, apalagi ini terjadi di Kota Serang sebagai ibu kota provinsi,” ujar Aji.
Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah daerah menuntaskan persoalan tersebut melalui gerakan sosial dan advokasi kebijakan.
“Kami sebagai pemuda dan mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi. Ini saatnya kami terlibat aktif mendukung kebijakan pendidikan yang berpihak pada anak-anak kurang mampu,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua KNPI Kota Serang, Fauzan Dardiri turut menyampaikan sejumlah masukan kepada pemerintah daerah, terutama soal akses transportasi pelajar. Ia menilai, penataan trayek dan pemberian subsidi transportasi dapat menjadi solusi konkret.
Pasalnya, masih terdapat siswa yang memiliki jarak tempuh ke sekolah cukup jauh, terutama di Walantaka dan Taktakan.
“Kalau trayek sekolah ditata dan disubsidi, maka alasan tidak sekolah karena transportasi bisa ditekan. Pemerintah juga bisa membuat sistem transportasi berbasis aplikasi untuk memudahkan akses siswa ke sekolah,” ujar Fauzan.
Fauzan juga mendorong Pemkot Serang agar mengaktifkan kembali program pendidikan nonformal sebagai alternatif pendidikan bagi anak-anak yang putus sekolah.
“Pendidikan nonformal bisa menjadi solusi, apalagi jika bekerja sama dengan yayasan atau perusahaan melalui program CSR. Jadi CSR tidak hanya digunakan untuk infrastruktur, tapi juga untuk keberlanjutan pendidikan,” jelasnya.
Reporter: Nahrul Muhilmi
EDitor: Aditya











