SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Kondisi Sungai Cibanten di Kota Serang makin memprihatinkan. Puluhan titik tumpukan sampah ditemukan di sepanjang sempadan sungai tersebut. Hal ini mendorong Komunitas Peduli Sungai Banten (KPSB) mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Serang untuk segera mengambil tindakan konkret, salah satunya dengan membangun Tempat Pengolahan Sampah (TPS) dan fasilitas pengelolaan berbasis komunitas.
Ketua Pokja Relawan Banten, Lulu Jamaludin, menyebutkan hasil dari kegiatan pengarungan Sungai Cibanten menunjukkan adanya 49 titik tumpukan sampah domestik milik warga di sepanjang aliran sungai.
“Ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan dan tidak boleh dibiarkan. Perlu langkah konkret dari Pemkot, salah satunya menyediakan TPS atau bahkan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle),” ujar Lulu, Senin, 21 Juli 2025.
Menurutnya, warga yang tinggal di bantaran sungai saat ini mengalami kebingungan terkait tempat membuang sampah. Keberadaan TPS3R yang sesuai dengan karakteristik masing-masing kelurahan dinilai menjadi solusi yang efektif.
Lebih lanjut, Lulu mengajak semua pihak, baik dari kalangan pemerintah maupun swasta, untuk bergotong royong menjaga kebersihan dan kelestarian Sungai Cibanten.
“Ini adalah langkah awal menuju sungai yang bersih dan lestari. Tapi harus dilanjutkan dengan kolaborasi nyata lintas sektor,” tandasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Banten Andra Soni mengakui bahwa Sungai Cibanten memang tengah mengalami krisis akibat penumpukan sampah dan pendangkalan. Ia menyatakan siap mengambil langkah cepat.
“Kita akan segera lakukan aksi bersih-bersih Sungai Cibanten. Ini penting untuk mengembalikan fungsi ekologis dan sosialnya,” ujarnya.
Andra juga menyampaikan visinya untuk menjadikan kawasan Sungai Cibanten sebagai ruang edukasi lingkungan, konservasi, dan wisata air. Namun, menurutnya hal ini hanya bisa terwujud melalui sinergi berbagai elemen, mulai dari BBWS C3, pemerintah provinsi, pemerintah kota, hingga elemen masyarakat di tingkat RT dan RW.
“Kita butuh pemahaman kolektif. Semua harus bergerak bersama, dan hasilnya harus diwujudkan dalam kebijakan nyata,” tegasnya.
Editor: Aas Arbi











