TANGERANG SELATAN, RADARBANTEN.CO.ID – Di tengah geliat pembangunan Kota Tangerang Selatan, sebuah lahan kosong di kawasan Rawa Buntu disulap menjadi kebun produktif yang tak hanya hijau, tapi juga menyimpan harapan. Di balik kebun bernama “Kebun Rel” itu, berdiri sosok S Maringan, seorang aparatur sipil negara (ASN) yang menjadikan pertanian sebagai jalan pengabdian sosial.
Lahan seluas 900 meter persegi itu sebelumnya dibiarkan terbengkalai. Lokasinya yang tak jauh dari rel kereta api dan Stasiun Rawa Buntu membuat warga sekitar menamainya Kebun Rel. Sejak tahun lalu, Maringan mengubahnya menjadi ruang hijau penuh tanaman umbi-umbian dan buah-buahan, seluruhnya dikelola dengan dana pribadi.
“Kita mulai dari membersihkan lahan yang sudah seperti hutan, lalu menanaminya dengan berbagai bibit,” ujar Maringan, belum lama ini.
Lebih dari sekadar menanam, Kebun Rel menjadi tempat pemberdayaan. Puluhan mantan narapidana kini bekerja di sana. Mereka dilatih membibit tanaman seperti anggur dan alpukat. Hasil kerja mereka dibeli langsung oleh Maringan seharga Rp 5.000 per polibag. Dalam sehari, mereka bisa membawa pulang hingga Rp 100.000.
Bagi Maringan, pertanian bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari hidup. Ia dibesarkan dalam keluarga petani di Sumatera Selatan. Kecintaan pada dunia tani dan perikanan mengantarkannya pada berbagai inisiatif sosial, mulai dari pendampingan komunitas tani hingga pelatihan budidaya ikan lele. Usaha pembibitan lele miliknya kini berpindah ke Bandung, Jawa Barat. Di sana, ia membuka pelatihan gratis bagi warga yang ingin belajar beternak ikan.
Sebagai ASN, Maringan pernah menjabat Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan. Kini ia menjabat Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang Selatan. Dalam kapasitasnya, ia aktif membina 114 komunitas tani di dalam maupun luar kota.
Tak hanya soal pertanian, ia juga memikirkan bagaimana hasil panen masyarakat bisa dipasarkan. Ia membeli langsung hasil dari petani lokal dan mendistribusikannya lewat jaringan reseller yang ia bangun. Skema ini menciptakan sirkulasi ekonomi berbasis warga.
Melalui Kebun Rel dan berbagai aktivitas sosialnya, Maringan menunjukkan bahwa aparatur sipil negara tak hanya bisa bekerja di balik meja, tapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Dari lahan tidur, ia menumbuhkan kehidupan.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Aas Arbi










