LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Kenyataan pilu harus diterima oleh Irna Novianti (22) bersama suaminya Ridwan (41) warga Kampung Sindangsono, Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, yang harus tinggal di bekas rumah bekas pembuatan jamur tiram.
Kehidupan Irna menjadi kenestapaan yang dialaminya bersama suami dan anaknya yang harus tinggal di tengah keterbatasan ekonomi.
“Saya tinggal di saung bekas pembuatan jamur ini sudah tiga tahun. Sebelumnya tinggal di rumah saudara, tapi karena di sana terlalu banyak orang jadi kami pindah ke sini,” kata Irna saat berada di rumahnya yang berdinding terpal biru, Sabtu 26 Juli 2025.
Dirinya mengungkapkan, kondisi gubuk yang ditinggali oleh keluarganya itu sangat memperihatinkan. Atapnya bocor dibanyak tempat, dan berlantai tanah. Ketika malam tiba, udara dingin menusuk tulang. Tak jarang, mereka juga harus waspada terhadap binatang berbisa seperti ular yang kadang datang secara tiba-tiba.
“Sedih pak tinggal di sini. Kalau hujan atapnya bocor, kadang ada ular juga. Dingin sekali kalau malam, apalagi kalau anak-anak kehujanan, bisa sakit. Pokoknya enggak nyaman,” ujarnya.
Irna menuturkan, sang suami bekerja sebagai buruh serabutan di kebun milik orang lain. Penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Kendati begitu, meski berada dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit, ia mengaku belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, baik Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Nontunai (BPNT).
“Dari pemerintah saya enggak pernah dapat apa-apa, beras atau apa pun juga enggak pernah. Suami saya kerja di kebun, kadang cuma dapat Rp 30.000 atau Rp 40.000 sehari,” katanya.
Di tengah kondisi serba kekurangan ini, Irna hanya bisa berharap ada bantuan dari pemerintah atau para dermawan agar mereka bisa hidup lebih layak, terutama demi masa depan anak-anaknya. “Harapan saya sih, pengen punya rumah yang layak buat anak-anak, pak. Kasihan mereka,” harapnya.
Editor: Abdul Rozak











