CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia, kemunculan bendera bajak laut dari serial anime One Piece di sejumlah lingkungan masyarakat di Cilegon menuai sorotan publik.
Fenomena ini mengundang perdebatan, mulai dari dukungan atas kreativitas anak muda, hingga kekhawatiran soal lunturnya semangat nasionalisme.
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Ayatullah Khumaeni, merespons fenomena ini melalui siaran pers resmi. Ia mengajak masyarakat melihat gejala ini secara jernih dan proporsional.
“Budaya populer seperti anime dan manga telah menjadi bagian dari ruang ekspresi saat ini. Simbol seperti bendera One Piece hadir bukan sebagai bentuk perlawanan terhadap negara, tapi sebagai representasi dari nilai-nilai kebebasan, persahabatan, dan keberanian yang mereka kagumi,” ujar Ayatullah, Jumat 1 Juli 2025.
Menurutnya, kehadiran simbol-simbol budaya pop di tengah momentum kemerdekaan bukan berarti masyarakat menolak identitas nasional.
Justru ini bisa menjadi cermin atas perlunya pembaruan dalam cara menyampaikan pesan-pesan kebangsaan.
“Mungkin bukan masyarakat yang salah memilih simbol. Mungkin kita yang belum cukup menghadirkan makna Merah Putih dengan cara yang menyentuh kehidupan mereka sehari-hari,” ujarnya.
Dewan Kebudayaan Kota Cilegon menilai fenomena ini sebagai momen penting untuk memperkuat pendekatan kultural yang kreatif dan menyeluruh.
Nasionalisme, kata Ayatullah, tidak mesti dibangun secara kaku dan seremonial, melainkan bisa tumbuh melalui ruang-ruang relevan yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Mencintai budaya populer itu sah. Bahkan bisa menjadi jembatan dialog budaya. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa nilai-nilai nasional juga hadir di sana, agar Merah Putih tetap hidup bukan hanya di tiang bendera, tapi juga di hati masyarakat,” tegasnya.
Ayatullah juga mendorong agar institusi pendidikan, komunitas, dan media terlibat aktif dalam membangun ekosistem kebudayaan yang adaptif namun tetap berpijak pada nilai-nilai nasional.
“Kita butuh pendekatan yang lebih segar untuk menanamkan semangat kebangsaan. Bukan hanya dalam bentuk pidato, tapi dalam keseharian, dalam simbol, bahkan dalam dunia digital yang menjadi tempat beraktivitas anak-anak kita,” pungkasnya.
Editor: Bayu Mulyana











