PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Proyek Jalan Tol Serang–Panimbang terus dikebut sebagai akses vital menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung dan motor penggerak pertumbuhan ekonomi di Banten bagian selatan. Namun, progres pembangunan, khususnya di Seksi III, masih dihadapkan pada sejumlah hambatan krusial.
Manajer Bidang Pengembangan Sistem PT Wika Serang–Panimbang, Muhammad Albagir, mengungkapkan bahwa secara umum proyek berjalan, namun sejumlah sub-paket pada Seksi III masih menunggu kepastian pendanaan.
“Beberapa paket sudah berproses dengan pendanaan dalam negeri dan melibatkan konsorsium kontraktor China, Indonesia, dan beberapa BUMN. Namun dua paket lain masih menunggu persetujuan,” ungkap Albagir saat diwawancarai Radarbanten.co.id, Kamis 14 Agustus 2025.
Seksi III, yang menjadi kunci konektivitas akhir menuju Panimbang, terbagi menjadi dua paket besar: 3A dan 3B. Dari empat sub-paket di 3B, dua sub-paket belum mendapat persetujuan final dari Kementerian Keuangan.
Persoalan lahan juga menjadi tantangan utama. Masalah tanah khas desa (TKD), sertifikat ganda, hingga sengketa kepemilikan terus dikawal agar tak memperlambat proses konstruksi. Apalagi pembangunan saat musim hujan membuat efektivitas pekerjaan menurun di lapangan.
“Jalan tol ini diharapkan menjadi pemacu pertumbuhan ekonomi di Banten dan KEK Tanjung Lesung,” jelasnya.
Tol ini masih berstatus sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Target pengoperasian Seksi II (Rangkasbitung–Cileles) ditetapkan pada semester I 2026, sedangkan Seksi III ditarget rampung pada 2027.
Tingginya desakan dari pelaku usaha di Panimbang dan kawasan KEK agar tol segera selesai menjadi tekanan tersendiri. Namun Wika menegaskan bahwa segala percepatan tetap harus mempertimbangkan kesiapan pendanaan dan lahan.
“Pengembangan investasi dan pertumbuhan ekonomi tidak bisa terjadi dalam 1–2 tahun, tetapi membutuhkan jangka panjang 10–15 tahun,” tuturnya.
Hingga kini, sejumlah investor mulai masuk ke wilayah KEK dan Panimbang. Namun sebagian besar masih bersikap menunggu hingga akses infrastruktur terbangun. Artinya, rampungnya Tol Serang–Panimbang menjadi kunci realisasi investasi lebih besar di masa mendatang.
Proyek ini dinilai sangat strategis, karena tak hanya memperpendek waktu tempuh dari pusat Provinsi Banten ke kawasan wisata Tanjung Lesung, tapi juga membuka peluang baru bagi sektor pariwisata, UMKM, hingga industri perikanan dan pertanian.
Namun, hingga semua hambatan dikoordinasikan lintas kementerian dan pemangku kepentingan, proyek ini masih membutuhkan waktu dan perhatian ekstra.
Editor: Merwanda











