KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 33 Kota Tangsel yang baru dibuka menerapkan sistem pendidikan berbasis asrama dengan pendekatan pembentukan karakter.
Konsep ini dirancang berbeda dari sekolah reguler, karena tidak hanya fokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga pendidikan moral, kedisiplinan, dan kemandirian siswa.
Kepala Sekolah Gina Intana Dewi menjelaskan, komunikasi antara siswa dengan orang tua tetap terjalin meski anak-anak tinggal di asrama.
Orang tua akan diberi jadwal khusus untuk berkunjung, sementara keseharian siswa akan didampingi oleh wali asuh dan wali asrama.
“Kami ingin membentuk disiplin anak, tapi bukan berarti memutus tali silaturahmi dengan keluarga. Komunikasi tetap bisa dilakukan melalui wali asuh,” ujarnya, Rabu 20 Agustus 2025.
Dalam sistem ini, Sekolah Rakyat memiliki 13 wali asuh dan 2 wali asrama yang berasal dari SDM Kemensos, PKH, serta TKSK. Mereka tidak hanya berperan mendampingi siswa, tetapi juga ikut menjadi bagian dari tenaga pendidikan.
Untuk kegiatan belajar, selama dua minggu pertama siswa menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), kemudian dilanjutkan dengan program matrikulasi sebelum masuk ke kurikulum nasional.
Kurikulum tetap mengacu pada standar SMA negeri, namun diperkaya dengan pendidikan karakter dan pelatihan kedisiplinan.
Pihak sekolah juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga lembaga pendidikan tinggi dan dunia usaha.
“Harapannya, lulusan Sekolah Rakyat dapat melanjutkan ke perguruan tinggi maupun masuk ke dunia kerja. Program Sekolah Rakyat ini merupakan bagian dari inisiatif nasional,” ujar Gina.
Hingga saat ini, tercatat ada rencana pembangunan sekitar 165 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia yang akan diresmikan secara bertahap, dengan peresmian oleh Presiden dijadwalkan pada September mendatang.
Editor: Abdul Rozak











