KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Indonesia tengah menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.
Berdasarkan analisis ketersediaan air baku nasional tahun 2024, kebutuhan air mencapai 474 m³ per detik, sementara ketersediaannya hanya 253 m³ per detik, sehingga terjadi defisit hingga 221 m³ per detik.
Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam Forum Rembuk Interaktif Indowater 2025 yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, yang terselenggara pada Jumat 15 Agustus 2025.
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Dewi Chomistriana, menegaskan bahwa perubahan iklim semakin nyata memengaruhi sektor air.
Ia menyebutkan, fenomena kekeringan, intrusi air laut, dan degradasi kualitas air menjadi tantangan besar yang memperburuk distribusi air di Indonesia.
“Perubahan iklim membuat ketimpangan distribusi semakin tajam. Ada wilayah yang surplus, sementara wilayah lain mengalami kekurangan karena sumber air tidak merata,” jelas Dewi melalui siaran pers yang diterima Selasa 26 Agustus 2025.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah memprioritaskan pemenuhan prinsip 4K (Kuantitas, Kualitas, Kontinuitas, dan Keterjangkauan) dalam pengelolaan air.
Upaya strategis dilakukan melalui pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), waduk, embung, serta program konservasi sumber daya air. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan revisi PP Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum, dengan memasukkan isu integrasi SPAM dan sistem pengelolaan air limbah.
“Kepastian ketersediaan air baku menjadi pekerjaan bersama. Kita harus menjaga kelestarian ekosistem dan sistem hidrologi sekaligus membuka peluang kolaborasi multipihak demi keberlanjutan pasokan air di masa depan,” tegas Dewi.
Editor: Mastur Huda











