KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel menepis isu yang menyebut kualitas udara di wilayahnya masuk kategori terburuk bahkan terburuk di Asia Tenggara.
Isu tersebut ramai dipublikasikan melalui sejumlah website dan aplikasi menggunakan alat pengukur udara independen.
Kepala Bidang Pengendalian, Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) DLH Tangsel, Carsono, mengungkapkan bahwa setelah dilakukan penelusuran, kabar itu diduga terkait strategi pemasaran alat filter udara ruangan.
“Awalnya ada komunikasi dari pihak marketing yang menawarkan alat. Setelah dicek, ternyata itu alat filter udara ruangan, bukan alat pemantau udara luar. Dari situ kami menduga ini hanya strategi jualan dengan membungkus isu polusi,” jelas Carsono, Selasa 26 Agustus 2025.
Menurut Carsono, angka yang dipublikasikan dalam isu viral tersebut sangat berbeda dengan data resmi pemantauan yang dilakukan pemerintah.
Saat ini DLH Tangsel menggunakan Air Quality Monitoring System (AQMS) yang ditempatkan di German Center, BSD Serpong.
“Hasil AQMS kami, serta pembanding dari Kementerian Lingkungan Hidup dan BMKG, menunjukkan kualitas udara Tangsel masih dalam kategori sedang, tidak separah klaim di media itu,” tegasnya.
Carsono menilai klaim bahwa Tangsel menjadi kota dengan polusi terburuk di Asia Tenggara tidak logis jika dibandingkan dengan daerah industri berat.
“Di Tangsel hanya ada tiga industri besar, salah satunya Indah Kiat yang penggunaan batubaranya di bawah 30 persen. Bandingkan dengan Cilegon, Balaraja, atau Pasar Kemis yang industrinya jauh lebih besar. Jadi klaim Tangsel terburuk di Asia Tenggara jelas tidak masuk akal,” ujarnya.
DLH Tangsel terus melakukan pemantauan kualitas udara dan uji emisi kendaraan secara berkala sebagai langkah pengendalian. Carsono menegaskan pihaknya siap mengklarifikasi secara terbuka jika pihak pemasaran alat tersebut bisa ditemui.
“Kalau ketemu orangnya, kami ajak uji langsung. Kami punya alat pembanding resmi, biar jelas mana yang valid. Jadi masyarakat tidak perlu resah dengan isu-isu yang dibungkus untuk kepentingan bisnis,” tandasnya.
Editor: Mastur Huda











