LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Maraknya aksi demonstrasi di berbagai daerah memicu beragam reaksi daerah, nasional hingga dunia. Tentunya aksi tersebut semakin meluas hingga ke daerah yang memunculkan aksi demontrasi besar hingga membakar gedung DPRD di berbagai willayah.
Aksi ini terjadi sebagai bentuk kekecewaan rakyat, khususnya generasi muda, terhadap Dewan Perwakilan Rakyat yang dinilai gagal mewakili aspirasi masyarakat dan justru sibuk dengan kepentingan politik elite.
Demonstrasi yang berlangsung di berbagai daerah merupakan simbol perlawanan tersebut menyuarakan sejumlah tuntutan, mulai dari penolakan tunjangan anggota DPR dan berbagai pernyataan dewan menyulut amarah rakyat.
Menanggapi hal ini, Feri Hermawan, mantan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA) dan kini dikenal sebagai salah satu tokoh pemuda berpengaruh di Kabupaten Lebak, angkat bicara. Ia menyebut bahwa aksi pembakaran demontrasi dan pembakaran DPR merupakan peringatan keras dari rakyat bahwa lembaga tersebut telah kehilangan legitimasi moral di mata publik.
“Buntut dari sebuah kebijakan yang terus menerus, hingga ucapan sebagai publik figur DPR tampak tak lagi memperhatikan serta menimbang batasan. Menjadi sebuah bom waktu bagi masyarakat seluruh Indonesia memendam kekesalan,” ujar Feri saat diwawancarai kepada RADARBANTEN.CO.ID, Selasa 2 September 2025.
Feri juga menyoroti bahwa ketidakterbukaan DPR dalam pengambilan keputusan, serta pengesahan undang-undang yang dianggap merugikan rakyat, menjadi penyebab utama lahirnya gerakan-gerakan perlawanan. Ia mengajak semua pihak, khususnya para legislator, untuk tidak menyepelekan suara-suara kritis dari kalangan muda.
“Dalam politik tentunya ada etika politik tentang prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai yang mengatur perilaku politik individu dan institusi dalam kehidupan bermasyarakat. Etika politik bertujuan untuk menciptakan tatanan politik yang adil, berkeadilan, dan berkeadaban dengan memastikan perilaku politik didasarkan pada standar moral yang tinggi, bukan hanya perebutan kekuasaan. Apalagi sebagai manusia tentunya etika dan adab yang harus di utamakan bukan soal ke ilmuan dan banyak gelar,” tegas Feri yang juga aktif dalam gerakan sosial di Banten.
Lebih lanjut, Feri mengingatkan bahwa demonstrasi adalah bagian dari demokrasi. Menurutnya, aksi mahasiswa yang menyuarakan kekecewaan secara terbuka justru menunjukkan bahwa demokrasi masih hidup. Namun, bila suara tersebut terus diabaikan, maka potensi perlawanan yang lebih luas dan sistemik bisa terjadi.
“Penyampaian aspirasi melalui demontrasi merupakan langkah yang di lakukan dalam menyuarakan protes terhadap suatu kebijakan secara lisan di depan umum sebagai bentuk kekecewaan yang sering di abaikan oleh pemegang kebijakan. Tentunya ini menjadi perhatian yang harus di cermati serta menjadi cerminan bagi yang di kritisi dan sebagai introspeksi diri,” tuturnya.
Editor: Bayu Mulyana











