PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah terus berupaya memperbaiki sistem transportasi di Banten. Salah satu langkah besarnya yakni reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung–Pandeglang yang sudah lama berhenti beroperasi.
Jika jalur ini kembali aktif, diharapkan konektivitas antarwilayah di Banten hingga daerah sekitar bisa semakin meningkat. Wacana reaktivasi yang pernah menjadi tonggak transportasi pada masa kolonial Belanda itu kini kembali bergulir serius di pemerintahan pusat maupun daerah.
Masyarakat pun menanti keseriusan pemerintah merealisasikan proyek ini. Rencana reaktivasi disebut tidak main-main, bahkan pemerintah sudah menargetkan langkah awal dilakukan tahun depan.
Dilansir dari inforadar.id, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan berkoordinasi untuk mempercepat tahapan awal proyek. Penertiban lahan bekas jalur lama ditargetkan mulai digarap pada 2025.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub melalui Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Jakarta akan memulai pembebasan lahan pada 2025 hingga 2026 di wilayah Rangkasbitung dan Pandeglang.
Jika rampung, jalur ini akan kembali menghubungkan sejumlah stasiun dan halte peninggalan masa kolonial Belanda. Total ada 13 titik yang bakal aktif lagi, mulai dari Stasiun Rangkasbitung hingga Labuan.
Berikut daftar stasiun dan halte di jalur Rangkasbitung–Labuan:
- Rangkasbitung
- Warunggunung
- Pasir Tangkil
- Pandeglang (Kadomas)
- Kadukacang
- Sekong
- Cikadueun
- Sodong
- Kananga
- Menes
- Bojong Canar
- Cirendeu
- Cibama
- Labuan
Reaktivasi jalur kereta ini diharapkan bisa meningkatkan konektivitas antarwilayah di Banten, sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Masyarakat pun menanti keseriusan pemerintah mewujudkan proyek transportasi yang sempat berjaya di masa kolonial itu.
Editor: Abdul Rozak











