LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Pagelaran adat dan budaya Seren Taun Kasepuhan Cisungsang kembali digelar dan dibuka Senin 22 September 2025. Acara budaya berlangsung dari 22-29 September yang berlangsung di Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak.
Seren Taun Kasepuhan Cisungsang diisi dengan berbagai acara di antaranya, dialog budaya, lomba pencak silat dan ritual adat rasul pare di leuit. Acara seren taun merupakan acara tahunan, dalam acara ini ada Ritual Rasul Pare di Leuit dan memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Kasepuhan Cisungsang.
Leuit (lumbung padi) dipandang sebagai simbol kesejahteraan dan keberlangsungan hidup. Dengan memasukkan padi hasil panen ke dalam leuit, masyarakat meyakini adanya restu dan berkah dari leluhur agar hasil panen tetap terjaga, mencukupi kebutuhan, dan membawa kebaikan bagi seluruh warga kasepuhan.
Ritual ini juga menjadi momentum pengingat bahwa bertani bukan hanya soal mengolah tanah, melainkan juga bentuk pengabdian kepada alam, leluhur, dan Sang Pencipta. Dengan begitu, generasi muda diharapkan terus memaknai pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga identitas budaya yang harus dijaga.
Perwakilan Kasepuhan Cisungsang, Cassandra Cleo Berliana Inten, menyampaikan sambutan sekaligus meresmikan dimulainya festival. Suasana semakin khidmat dengan doa bersama yang menjadi penutup rangkaian pembukaan.
Selain itu Cassandra Cleo mengisi dialog budaya dan menyoroti rasa malu yang kerap muncul di kalangan generasi muda ketika mengekspresikan budaya. “Mudah dilakukan, tetapi sulit dicontoh. Misalnya, perempuan dianjurkan memakai samping, namun banyak yang enggan karena malu,” ungkapnya dalam keterangan tertulis kepada RADARBANTEN.CO.ID, Selasa 23 September 2025.
Cassandra menambahkan, meski awalnya ingin mengikuti gaya berpakaian modern, kini ia bangga mengenakan kebaya dan samping. “Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi? Menurut saya, berpakaian adat juga tetap keren,” ujarnya.
Sementara itu, Yoki Yusanto akademisi sekaligus narasumber dialog budaya yang hadir dalam acara Seren Taun Cisungsang menekankan pentingnya dokumentasi budaya.
“Sebagian besar tradisi di Cisungsang diwariskan secara lisan. Tugas generasi muda adalah menuliskannya agar bisa menjadi bahan kajian di masa depan,” tegasnya.
Yoki menegaskan fenomena lunturnya tradisi tidak hanya terjadi di Cisungsang, melainkan juga di berbagai wilayah lain. Ia menekankan pentingnya dokumentasi budaya dan memberi kesempatan generasi muda untuk memimpin.
Editor: Mastur Huda











