SERANG,RADARBANTEN.CO.ID-Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dengan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) untuk memperkuat sektor pertanian.
Kepala Distan Banten, Agus M Tauchid menyebutkan bahwa KTNA memiliki peranan strategis dalam mendorong peningkatan produksi sekaligus memperluas jaringan kerja sama hingga ke tingkat desa.
“KTNA adalah organisasi besar, anggotanya tersebar dari pusat hingga daerah. Ini modal berharga untuk mengakselerasi pembangunan pertanian di Banten,” ujar Agus, Minggu 28 September 2025.
Ia pun mengapresiasi kegiatan Pekan Daerah (Peda) VII yang digelar KTNA Banten di Alun-alun Kota Cilegon.
Kegiatan tersebut berlangsung hingga 30 September 2025 dengan mengangkat tema Mewujudkan Petani dan Nelayan Banten yang Maju, Mandiri, dan Modern Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan.
Agus menekankan bahwa penguatan sektor pertanian tidak bisa ditopang pemerintah saja.
Peran petani, nelayan, hingga dunia usaha sangat dibutuhkan agar cita-cita kemandirian pangan dapat diwujudkan.
“Dengan kolaborasi yang kokoh, target bersama akan lebih mudah dicapai,” tambahnya.
Menurut catatan Distan, kontribusi Banten terhadap produksi pertanian nasional terus menunjukkan tren positif.
Tahun 2024, Banten berada di peringkat 9 besar nasional, dan pada 2025 naik ke posisi 8.
Capaian ini juga tercermin dari Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Banten yang enam tahun terakhir konsisten masuk kategori “sangat tahan”, serta Nilai Tukar Petani (NTP) yang cukup tinggi dalam dua tahun terakhir.
Meski demikian, Agus mengakui masih ada tantangan besar, terutama terkait regenerasi petani.
Data menunjukkan sekitar 70,49 persen petani di Banten berusia di atas 40 tahun, sedangkan petani milenial (usia 19–39 tahun) baru mencapai 29,51 persen.
Untuk mendorong keterlibatan generasi muda, Pemerintah Provinsi Banten menyiapkan sejumlah langkah strategis melalui visi dan misi Gubernur serta Wakil Gubernur, Banten Maju, Adil Merata, Tidak Korupsi, yang dituangkan dalam 8 program unggulan dan 24 turunan.
Fokusnya mencakup tata kelola air hingga tingkat usaha tani, penguatan konektivitas antarwilayah produksi, serta dukungan regulasi pusat terkait pupuk, benih, alsintan, dan harga komoditas yang lebih berpihak kepada petani.
“Kami optimistis, kepastian akses terhadap sarana produksi dan jaminan harga akan membuat sektor pertanian semakin menarik bagi generasi milenial maupun Gen Z,” kata Agus.
Ia juga mengapresiasi inisiatif KTNA yang menekankan pemberdayaan petani milenial dalam ajang PEDA 2025.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi kunci agar lahan pertanian dapat dikelola dengan pendekatan modern sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi











