LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Kisah pilu datang dari pasangan suami istri Juned dan Saniti, warga Kampung Pasir Ipis, Desa Kaduagung Barat, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak. Selama 20 tahun terakhir, mereka bersama dua anak harus tinggal di rumah reyot seperti nyaris roboh.
Rumah sederhana mereka kini berada dalam kondisi sangat memprihatinkan. Atap bocor di berbagai sudut, dinding lapuk dimakan usia, hingga tiang penyangga yang keropos terpaksa ditopang kayu seadanya agar tidak roboh. Setiap kali hujan atau angin kencang, keluarga kecil ini hidup dalam ketakutan.
“Kalau hujan atau angin kencang, kami harus mengungsi ke rumah tetangga atau rumah RT. Takut ketimpa reruntuhan, Pak,” ujar Saniti dengan nada sedih saat ditemui di rumahnya, Senin, 6 Oktober 2025.
Ia menuturkan, selama bertahun-tahun hanya bisa pasrah dengan kondisi rumah yang kian memprihatinkan. Saniti mengaku sudah berulang kali mengajukan permohonan bantuan perbaikan rumah, namun hingga kini belum ada tanggapan berarti.
“Sedih, Pak. Sedih sekali. Bukan bohong-bohongan. Rasanya hati hancur, tapi mau bagaimana lagi,” ucapnya sambil menyeka air mata.
Sementara itu, Juned, menyebutkan sudah lama tak bekerja akibat sakit dan usia yang menua. Sementara istrinya hanya sesekali bekerja sebagai buruh tani di sawah orang dengan upah tak seberapa. Jangankan untuk memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka sering kali kelabakan.
“Saya cuma kuli ke sawah, nandur, ngoyos, ngegebot punya orang. Kalau suami sudah enggak kerja apa-apa, sedih Pak,” ujarnya.
Lebih lanjut, meski sudah berkali-kali mengajukan bantuan perbaikan rumah ke pemerintah, harapan itu tak pernah benar-benar datang. Bahkan, Saniti mengaku pernah dimintai uang hanya untuk sekadar mengurus berkas.
“Cuma difoto-foto doang, Pak. Pernah dimintai Rp50 ribu, pernah juga Rp30 ribu untuk persyaratan. Padahal kami sama sekali tidak punya uang,” tuturnya.
Saniti juga mengungkapkan, satu-satunya bantuan yang pernah mereka terima hanyalah BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) senilai Rp400 ribu yang turun tiga bulan sekali. Jumlah itu jelas tak cukup untuk menopang kehidupan mereka.
Reporter : Nurandi











