RADARBANTEN.CO.ID- Nama Rahman Basri—akrab disapa Robbie Rahman—mungkin sudah lama beredar di lingkaran rock lokal. Di usia 50, gitaris additional Powerslaves ini kembali mengangkat pick dan sorotan dengan rilisan terbarunya: sebuah single instrumental bertajuk “Manusia.”
Karya ini berdiri di persilangan modern rock dan blues: dinamis, berisi, dengan teknik yang matang namun tetap membiarkan emosi jadi penuntun. Bukan sekadar barisan lick, Robbie merajut harmoni yang mengalir—membawa pendengar menelusuri jalan panjang perjalanannya sebagai musisi yang tak pernah lelah bereksperimen.
“Untuk sementara masih dicicil dulu, semoga ke depan bisa diwujudkan jadi album penuh,” ujarnya santai, tapi jelas terdengar yakin. “Manusia” sendiri sudah tersedia di YouTube Music, Spotify, Apple Music, sampai Joox—tanda keseriusannya merawat karya di sela kesibukan manggung bareng Powerslaves.
Di luar panggung, Robbie adalah paket lengkap. Ia kerap turun ke lantai-lantai kafe untuk jam session, sekaligus aktif di balik layar melalui Warna Production. Pengalaman sebagai editor video mengantarnya ke proyek-proyek besar—dari Huawei Indonesia hingga Telkomsel Video Awareness—sebuah skillset yang diasah sejak bantu-bantu tim TVRI Pusat beberapa tahun silam.
“Bermusik sudah lama gue tekuni, mungkin separo umur gue,” tuturnya. Jejaknya dimulai dari No Limits pada 1996, lalu menjelma jadi additional player Powerslaves hingga hari ini. Masih ada rencana lain di luar band utama—menegaskan bahwa bagi Robbie, kreativitas tak boleh berhenti di satu panggung.
Lewat “Manusia,” Robbie Rahman bukan cuma pamer kepiawaian memetik senar. Ia mengajak pendengar merenungkan hidup lewat nada—mengingatkan bahwa bagi musisi sejati, musik bukan perkara sorotan, melainkan perjalanan batin yang terus bergerak.










