SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Asal limbah medis yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) di lapangan kosong di Lingkungan Graha Walantaka, RT 022, RW 005, Kelurahan Pengampelan, Kecamatan Walantaka, Kota Serang terungkap.
Limbah tersebut berdasarkan dokumen yang ditemukan di lokasi diduga berasal dari Rumah Sakit Tonggak Husada di Desa Tunggak, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang dan RSUD Anuntaloko Parigi, Sulawesi Tengah.
Selain itu, dalam tumpukan limbah, terdapat bekas tempat obat yang bertuliskan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Kasatreskrim Polresta Serang Kota, Kompol Alfano Ramadhan saat dikonfirmasi terkait asal limbah tersebut belum dapat menjelaskan. Alasannya, penyelidik sedang fokus proses penyelidikan. “Kami maksimal dulu (penyelidikan-red) biar nanti rilisnya enak,” katanya kemarin.
Terkait kabar pelaku pembuang limbah tersebut sudah ditangkap, Alfano membantahnya. “Belum (ditangkap-red) masih lidik (penyelidikan-red),” ujarnya.
Ketua RT 022 Lingkungan Graha Walantaka, Agus Suherman mengatakan, limbah tersebut diangkut sebuah truk pada Jumat malam, 10 Oktober 2025. Keesokan harinya atau pada Sabtu 11 Oktober 2025 limbah itu ditemukan oleh warga yang biasa memilah sampah. “Ada warga yang nyortir sampah ngasih tahu kalau ada limbah medis. Awalnya disangka rongsokan,” katanya.
Temuan limbah medis tersebut, oleh warga dilaporkan kepada Agus. Selanjutnya, usai mengecek lokasi, bapak tiga anak ini melapor ke Ketua RW. “Saya langsung lapor ke Pak RW untuk koordinasi,” ujarnya.
Berdasarkan temuan di lapangan, limbah medis yang ditemukan tersebut berupa suntikan, selang infusan, kantong labu darah, pakaian bekas, tabung vacutainer, dan peralatan medis lainnya.
Menurut Agus, limbah tersebut menimbulkan bau yang tak sedap. Setelah diguyur hujan, bau akibat limbah tersebut semakin menyengat. “Saya pas rekam video enggak berani lama-lama disana, karena ada bau darah sama bau obat. Baunya enggak enak,” kata mantan buruh pabrik ini.
Agus menjelaskan, temuan limbah tersebut telah sampai kepada petugas kepolisian. Pada Senin malam, 13 Oktober 2025 mereka datang dan memasang garis polisi di dua lokasi. Selain garis polisi dipasang juga sebuah spanduk agar masyarakat tidak mendekat ke lokasi karena berbahaya. “Kita sudah sampaikan ke warga agar menjauh dari lokasi,” ujarnya.
Sampai saat ini, Agus mengaku belum mendapat laporan warganya yang mengalami sakit atau muntah-muntah akibat limbah tersebut. Namun demikian, warga tetap meminta agar limbah tersebut segera ditangani karena dikhawatirkan menimbulkan dampak buruk nantinya.
“Kalau sekarang belum ada (warga sakit-red), cuma kalau dibiarkan itu limbah bisa merasap ke dalam tanah dan tercampur dengan air. Limbah itu bahaya dari artikel yang saya baca, bisa menimbulkan penyakit kanker dan penyakit lainnya jadi saya harap ini dapat jadi perhatian serius dari pemerintah,” katanya.
Editor: Bayu Mulyana











