SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Pemerintah Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang mengaku mengalami kesulitan dalam mengelola dan membuang sampah liar selama satu bulan terakhir.
Pasalnya, pihaknya tidak bisa membuang sampah ke tempat pembuangan sampah akhir sedangkan volume sampah di Kecamatan Kramatwatu setiap harinya cukup besar.
Diketahui ada sebanyak 8 titik samah liar yang mayoritas berada di jalan utama di Kabupaten Serang. Salah satu titik sampah liar terpantau berada di alun-alun Kecamatan Kramatwatu.
Di lokasi tersebut terlihat ada banyak bungkusan plastik berwarna merah yang penuh dengan sampah. Sampah tersebut dibiarkan menumpuk pohon dan banyak dihinggapi oleh lalat-lalat.
Camat Kramatwatu, Sri Rahayu Basukiwati mengatakan, Kecamatan Kramatwatu merupakan salah satu kecamatan yang telah diberi kewenangan untuk mengelola sampahnya secara mandiri.
Namun sejak satu bulan terakhir, pihaknya mengalami kesulitan untuk mengelola sampah karena tidak bisa membuang ke TPA.
“Kita memang mengalami kendala, sedangkan sampah sudah mulai menumpuk. Kita tidak bisa membuang. Tadinya kita ada pembuangan di Lebak Wangi, ternyata didemo juga oleh masyarakat. Sekarang kita lagi cari cara,” katanya, Senin 27 Oktober 2025.
Ia mengatakan, jika volume sampah yang diproduksi setiap harinya lebih dari 6 truk karena jumlah penduduk yang sangat banyak. Ia pun mengaku saat ini kewalayah karena tidak ada tempat untuk membuang sampah.
“Selain sampah rumah tangga itu sampah pasar, ditambah lagi sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat di pinggir jalan,” ungkapnya.
Ia mengaku jika berangsur-angsur sampah yang menumpuk di satu titik sudah diangkut, apalagi sampah yang berada di jalur utama. Ini untuk memastikan agar sampah tersebut tidak mengganggu kenyamanan warga.
“Kita tekankan agar bisa dibuang sedikit-sedikit. Kita ada TPS sementara, namun kondisinya sekarang masih menumpuk. Kalau terlalu banyak menumpuk dan bau juga,” ujarnya.
Ia mengaku, jika di kecamatan Kramat watu sudah memiliki beberapa bank sampah yang mengelola sampah-sampah yang bernilai ekonomis. Namun belum bisa mengurangi sampah secara optimal.
“Tidak bisa mengurangi banyak, karena hanya sampah yang bernilai ekonomis yang diolah. Namun sampah rumah tangga dan sampah lainnya tetap harus dibuang ke TPA,” ujarnya.
Ia mengatakan di Kecamatan Kramatwatu juga ada sebanyak dua desa yang telah melakukan pengelolaan sampahnya secara mandiri, yakni Desa Wanayasa dan Desa Teluk Terate.
“Sudah menggunakan dana desa nya untuk membeli alat pembakar sampah. Namun kapasitasnya masih kecil jadi tidak sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan,” ujarnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











