PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Jalan Dandels, rute legendaris dari Anyer, Serang, Banten, hingga Panarukan, Jawa Timur, masih menyimpan kisah kelam dan misteri sejarah. Jalan sepanjang 1.000 kilometer ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Belanda ke-36, Herman Willem Dandels, pada tahun 1809–1810 untuk memperlancar administrasi Hindia Belanda dan menghadapi ancaman Inggris.
Dikutip dari kanal YouTube Mang Dhepi, catatan sejarah menyebut Jalan Dandels awalnya melewati Anyer – Jakarta – Bogor – Puncak – Cianjur – Bandung – Cirebon – Pekalongan – Surabaya – Panarukan. Namun, rute di Kabupaten Serang dan Lebak masih simpang siur; beberapa warga hanya mengenal jalur Anyer hingga Serang.
Tahapan Pembangunan Jalan Dandels
Sejarawan Halwani Mihrab menjelaskan, pembangunan Jalan Dandels dilakukan dalam dua tahap.
- Tahap pertama (1808): membuka poros Batavia–Banten, termasuk pembangunan pelabuhan utara dan selatan.
- Tahap kedua (1809): memperluas rute dari Anyer melalui Pandeglang, dengan cabang ke Serang Utara dan Lebak Selatan, lalu berlanjut ke Tangerang, Jakarta, Bogor, hingga Panarukan.
“Di Banten banyak cabang jalan karena daerah ini kaya rempah. Anyer menjadi titik nol kilometer untuk mempermudah pengangkutan hasil bumi ke Pelabuhan Merak dan Ujung Kulon,” ujar Halwani.
Jejak Kelam dan Korban Jiwa
Sebagian jalur Jalan Dandels masih digunakan hingga kini, meski beberapa ruas menuju Pontang dan Bayah rusak dan tak lagi bisa diperbaiki. Dandels juga diketahui membangun jalan di pesisir selatan Jawa, dari Bayah ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Pangandaran, hingga Yogyakarta.
Sejarawan Dr. Hj. Degf menambahkan, selain fungsi pertahanan, jalan ini juga dimaksudkan untuk memperlancar transportasi surat dan rempah. Namun, proses pembangunannya menelan korban sekitar 15.000 jiwa akibat kerja paksa dan wabah malaria — banyak di antaranya tidak dimakamkan secara layak.
Dandels dikenal sebagai gubernur yang kejam dan otoriter, menindak tegas rakyat yang menolak bekerja. Jalan Dandels bukan sekadar jalur pos, melainkan juga alat strategi ekonomi, politik, dan administrasi kolonial Belanda.
Akhir Kekuasaan Kesultanan Banten
Pada masa Dandels, penguasa lokal tidak lagi menggunakan gelar Sultan, melainkan Pangeran. Sejak Sultan Safiuddin menandatangani perjanjian dengan Belanda pada 28 November 1808, Kesultanan Banten resmi berada di bawah kendali pemerintahan Hindia Belanda.
Reporter: Moch Madani Prasetia











