PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), melalui program pengabdian kepada masyarakat, mengadakan pelatihan produksi garam rebus di Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Rabu 12 November 2025. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir, serta memperkenalkan teknologi garam rebus yang lebih ramah lingkungan dan memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam di daerah tersebut.
Kegiatan yang diselenggarakan tersebut, bekerja sama dengan Kelompok Masyarakat Peduli Lingkungan Pesisir dan Mangrove (Kompaksi), para peserta yang sebagian besar merupakan anggota kelompok Kompaksi diberikan pelatihan mendalam tentang cara produksi garam menggunakan teknologi garam rebus.
Teknologi ini diharapkan dapat menggantikan metode tradisional yang memakan waktu dan biaya tinggi, dengan proses yang lebih efisien dan menghasilkan produk garam berkualitas tinggi. Selain itu, teknologi ini juga lebih ramah lingkungan, mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem pesisir yang menjadi tempat tinggal masyarakat setempat.
Ketua pengabdian kepada masyarakat, Dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Erik Munandar menjelaskan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dengan memperkenalkan alternatif yang lebih modern dalam produksi garam.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat Desa Panimbangjaya dapat meningkatkan daya saing produk garam mereka, membuka peluang pasar baru, serta menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi warga setempat,” ujar Erik Munandar.
Selain pelatihan, kegiatan ini juga diwarnai dengan penyerahan alat produksi garam rebus kepada Kelompok Kompaksi. Penyerahan alat ini diharapkan akan mempermudah proses produksi dan mempercepat penerapan teknologi garam rebus di lapangan, sehingga hasilnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat. Alat yang diserahkan merupakan bagian dari dukungan nyata Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dalam memberdayakan masyarakat pesisir dengan teknologi yang tepat guna dan aplikatif.
Kegiatan ini mendapat pendanaan dari Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2025. Program ini bertujuan untuk membangun kemitraan antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah guna mendorong pengembangan ekonomi berbasis teknologi dan berkelanjutan di daerah pesisir.
Erik Munandar menambahkan, Desa Panimbangjaya menjadi salah satu contoh pilot project yang diharapkan dapat diikuti oleh desa-desa pesisir lainnya dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
“Kami berharap penerapan teknologi garam rebus ini tidak hanya meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat Desa Panimbangjaya, tetapi juga memberikan dampak positif bagi konservasi lingkungan, khususnya dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan mangrove,” tambahnya.
Dengan adanya program ini, diharapkan para peserta dapat memanfaatkan teknologi garam rebus untuk mengoptimalkan potensi ekonomi lokal, meningkatkan pendapatan, serta menciptakan peluang usaha baru yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, dengan keterlibatan aktif kelompok masyarakat dan mitra seperti Kompaksi, program ini akan terus didampingi dan dikembangkan agar hasil yang dicapai dapat berkelanjutan dalam jangka panjang.
Sebagai langkah lanjut, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa juga berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan dan evaluasi dalam penerapan teknologi ini, guna memastikan bahwa keberhasilan yang dicapai dapat ditularkan ke wilayah pesisir lainnya di Banten dan daerah pesisir lainnya di Indonesia. Program ini, dengan dukungan penuh dari pihak universitas, pemerintah daerah, dan masyarakat, akan menjadi bagian penting dari upaya membangun ekonomi pesisir yang berkelanjutan, inklusif, dan berwawasan lingkungan.
Editor: Bayu Mulyana












