PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Jembatan Blengbeng yang melintasi Sungai Cikayang, Desa Cikeusik, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, kini dalam kondisi berbahaya. Struktur jembatan miring hingga 20 derajat.
Kondisi tersebut mengancam keselamatan warga. Ancaman terbesar dialami anak-anak sekolah yang setiap hari melintas.
Jembatan ini menjadi akses utama aktivitas warga. Warga memanfaatkannya untuk sekolah, bertani, dan berdagang.
Jembatan Blengbeng terbuat dari kayu, papan, dan bambu. Panjang jembatan mencapai 52 meter.
Danramil 0116/Cikeusik Kodim 0601/Pandeglang Kapten Inf Purgiarto menyebut kondisi jembatan sangat memprihatinkan.
“Konstruksi jembatan miring 20 derajat. Kondisi ini membahayakan keselamatan anak sekolah dan warga,” katanya, Senin, 8 Desember 2025.
Menurutnya, warga kini melintas dengan rasa was-was. Mereka takut jembatan kembali ambruk.
Jembatan ini sebelumnya sempat ambruk pada 2022. Insiden itu menyebabkan dua warga terjatuh ke sungai bersama sepeda motor.
Kedua korban saat itu mengalami luka serius. Peristiwa tersebut masih menyisakan trauma bagi warga.
Sejak kejadian itu, warga bersama TNI, Polri, dan pemerintah desa melakukan lima kali perbaikan darurat secara swadaya.
Namun, perbaikan hanya menggunakan material sederhana. Akibatnya, kerusakan kembali terjadi.
Kini, paku kembali menonjol. Papan jembatan kembali melengkung. Permukaan jembatan juga licin saat hujan.
Kondisi ini sangat membahayakan anak-anak sekolah. Mereka harus menyeberang setiap pagi demi berangkat belajar.
Kapten Purgiarto juga mencatat adanya kecelakaan pada Mei 2025. Seorang warga terjatuh dan mendapat 17 jahitan.
“Ini sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Jika jembatan putus total, warga harus memutar sejauh 2,5 kilometer. Jalur tersebut berupa jalan licin dan berbatu.
“Demi keselamatan, para orang tua perlu mendampingi anak-anak saat melintas,” katanya.
Warga Desa Cikeusik Rudi membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut perbaikan hanya bersifat sementara.
“Kami sudah beberapa kali gotong royong. Tapi karena jembatan tidak permanen, rusaknya berulang,” katanya.
Rudi menyebut warga mengalami trauma, terutama saat musim hujan. Jalan menjadi sangat licin.
Ia mendesak pemerintah segera membangun jembatan permanen. Ia ingin keselamatan anak sekolah terjamin.
“Kami ingin aktivitas petani dan warga kembali lancar,” ujarnya.
Seorang siswi bernama Sani juga mengaku takut melintasi jembatan. Ia sering melihat temannya terpeleset.
“Saya takut. Kalau hujan, saya memilih memutar lebih jauh demi keselamatan,” katanya.
Editor: Aas Arbi











