Penulis: Tuti Yelvianti
HARI Ibu sering hadir dengan narasi yang rapi: senyum keluarga, pelukan hangat, dan kebersamaan yang utuh. Namun, tidak semua ibu merayakannya dalam kondisi seperti itu.
Sebagian dari kami menjalani Hari Ibu dengan cara yang lebih sunyi, tanpa panggung, tanpa sorotan, hanya dengan memastikan hari tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Saya adalah seorang ibu dari tiga anak. Seorang istri yang menjalani pernikahan jarak jauh karena suami bertugas sebagai hakim, dan seorang perempuan yang setiap harinya berusaha menyeimbangkan peran domestik dengan tanggung jawab profesional.
Pagi saya dimulai lebih awal. Menyiapkan kebutuhan anak-anak, memastikan satu per satu siap menjalani harinya, lalu beralih pada pekerjaan yang menuntut konsentrasi dan komitmen.
Laptop dibuka bukan di ruang kerja khusus, melainkan di sudut rumah yang tersedia. Di sanalah materi perkuliahan disiapkan, tulisan dirangkai, dan pengabdian dikerjakan di sela waktu yang sering kali tidak ideal.
Di antara berbagai peran, mengajar, menulis, dan mengabdi hadir sebagai tanggung jawab yang dijalani dengan ritme masing-masing. Ada masa-masa padat, ada pula waktu yang lebih longgar. Namun, semuanya tetap menuntut kesungguhan, pikiran yang fokus, emosi yang terjaga, dan komitmen untuk menuntaskan apa yang telah dimulai.
Tidak jarang pekerjaan tersebut dilakukan pada malam hari, saat rumah mulai tenang dan anak-anak terlelap. Kadang, saya menutup laptop dengan mata yang lelah, lalu memastikan anak-anak tidur dengan perasaan aman, sebelum kembali berdamai dengan rindu yang tidak selalu punya tempat untuk disuarakan.
Di rumah, peran saya tidak pernah tunggal. Saya adalah pengasuh, pendamping belajar, pengatur emosi anak-anak, sekaligus penjaga ritme rumah agar tetap berjalan. Tidak ada pergantian peran. Tidak ada jeda panjang. Ketika satu peran goyah, peran lainnya ikut terdampak.
Dalam kondisi seperti itu, saya belajar bahwa ibu sering kali dituntut untuk tetap tenang, bahkan ketika lelah belum sempat diurai. Tidak semua perjuangan terlihat, tidak semua kerja bisa diceritakan. Banyak hal dijalani dalam diam, dengan keyakinan bahwa kehadiran sekecil apa pun tetap berarti bagi keluarga.
Pernikahan jarak jauh bukan sekadar tentang rindu yang tertahan. Ia tentang mengambil keputusan sendiri ketika anak sakit, menghadapi hari-hari penting tanpa pasangan di sisi, dan mengelola lelah tanpa selalu punya ruang untuk berbagi.
Jarak mengajarkan saya untuk mandiri, bahkan ketika hati sebenarnya ingin bersandar. Sering kali, peran istri seorang profesional dianggap mapan. Demikian pula pekerjaan pendidik yang kerap dinilai nyaman.
Padahal, di balik itu ada kerja emosional yang tidak terlihat. Ada hari-hari ketika yang dilakukan bukanlah berkembang, melainkan bertahan. Menjaga agar semuanya tetap berjalan sudah menjadi pencapaian tersendiri.
Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa menjadi ibu tidak selalu tentang kekuatan yang ditunjukkan dengan suara lantang. Kadang, kekuatan hadir dalam bentuk ketekunan dalam memilih bangkit setiap pagi, menyelesaikan tanggung jawab satu per satu, dan tetap hadir meski energi tidak selalu utuh.
Hari Ibu bagi saya adalah waktu untuk berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan hidup dan peran yang dijalani. Tentang pilihan yang diambil, tentang cinta yang diwujudkan dalam bentuk paling sederhana, yaitu kehadiran. Bukan kehadiran yang sempurna, tetapi kehadiran yang konsisten.
Tulisan ini saya persembahkan untuk para ibu yang menjalani banyak peran dalam senyap. Para ibu yang bekerja, mengasuh, menunggu, dan bertahan tanpa banyak bicara. Kita mungkin tidak selalu terlihat kuat, tetapi kita terus berjalan, dan dalam diam itulah cinta bekerja dengan caranya sendiri.
Selamat Hari Ibu.
Penulis : Tuti Yelvianti, Dosen Ilmu Kesehatan, Kota Serang, Banten
Editor: Aas Arbi











