CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Cilegon terus mendorong penguatan kompetensi tenaga kerja lokal melalui berbagai program sinergi dengan pemerintah dan lembaga vokasi, sebagai upaya menjawab kebutuhan dunia industri yang semakin spesifik.
Ketua DPD Apindo Cilegon, Najib Hanafi, mengatakan Apindo secara konsisten menghadirkan kegiatan dan program yang bertujuan menjembatani persoalan kompetensi tenaga kerja, khususnya bagi masyarakat lokal.
“Sebenarnya kita dari Apindo selalu membuat kegiatan dan program untuk menjembatani masalah kompetensi tenaga kerja,” kata Najib pada Kamis malam 29 Januari 2025.
Najib menjelaskan, untuk sejumlah posisi tertentu, industri membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian teknis yang tidak bisa dipenuhi hanya dari lulusan SMA atau SMK secara umum. Karena itu, Apindo menjalin kerja sama dengan lembaga vokasi.
“Kita tahu untuk posisi tertentu memang tidak cukup hanya lulusan SMK, apalagi SMA. Untuk pekerjaan teknik dan skill, itu kita bekerja sama dengan lembaga vokasi,” ujarnya.
Salah satu bentuk konkret kerja sama tersebut, lanjut Najib, adalah kemitraan Apindo dengan Balai Besar Vokasi Serang yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU).
“Itu salah satu program sinergi antara pemerintah dan Apindo untuk memberikan solusi ketenagakerjaan,” katanya.
Selain penguatan kompetensi, Apindo juga menekankan pentingnya komitmen industri untuk memprioritaskan perekrutan tenaga kerja lokal.
Menurut Najib, hal tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemerataan manfaat industri bagi masyarakat sekitar.
“Kami dari Apindo juga memberi penekanan kepada industri agar lebih banyak merekrut tenaga lokal. Itu menjadi semacam komitmen bersama,” ucapnya.
Namun demikian, Najib mengakui tidak semua kebutuhan industri bisa dipenuhi secara instan oleh tenaga lokal. Beberapa posisi membutuhkan keahlian khusus dan pengalaman kerja yang tidak bisa dibentuk dalam waktu singkat.
“Kadang industri membutuhkan tenaga yang benar-benar engineer atau tenaga dengan keahlian tertentu. Itu tidak bisa instan, perlu experience dan butuh waktu lama,” jelasnya.
Najib juga menyoroti masih rendahnya kreativitas dan komunikasi sebagian mahasiswa dengan dunia industri. Padahal, informasi lowongan dan program industri kerap dipublikasikan secara terbuka.
“Umumnya mahasiswa sekarang kreativitasnya masih kurang, komunikasi ke industri juga. Kadang sudah dipublikasikan di website, tapi banyak yang tidak tahu,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, pada salah satu program penempatan tenaga kerja untuk lulusan sarjana, respons dari pencari kerja lokal masih minim, meskipun peluang yang disediakan cukup besar.
“Respon dari lokal itu sedikit, padahal kita berharap banyak,” katanya.
Karena itu, Najib menegaskan perbaikan ekosistem ketenagakerjaan harus dilakukan dari semua lini, termasuk peran aktif masyarakat dalam meningkatkan kapasitas diri.
“Kita harus perbaiki dari semua lini. Masyarakat juga harus lebih proaktif,” tegasnya.
Menurut Najib, pada dasarnya industri lebih menyukai tenaga kerja lokal karena dinilai lebih efisien dari sisi biaya dan operasional.
“Industri sebenarnya lebih suka orang dekat. Lebih efisien cost, tidak perlu khawatir soal izin pulang, jarak jauh, dan lainnya,” ujarnya.
Selain itu, perekrutan tenaga lokal juga memberikan dampak ekonomi berantai bagi daerah.
“Ada multiplier effect kalau banyak orang lokal yang bekerja,” katanya.
Ke depan, Apindo juga mendorong penguatan pendidikan vokasi, termasuk pengembangan SMK berbasis industri seperti yang telah berjalan di sejumlah kawasan industri.
“Di Apindo Banten, salah satunya kita dorong vokasi dan SMK industri seperti di Cikarang,” ujarnya.
Editor Daru











