KOTA TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Di balik nama sebuah wilayah sering tersimpan cerita panjang mengenai sejarah dan kehidupan masyarakatnya. Hal tersebut juga berlaku pada Kelurahan Tajur di Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang.
Dalam catatan sejarah lokal yang ditulis Burhanudin dalam bukunya “Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang”, nama Tajur memiliki keterkaitan dengan kondisi wilayah pada masa lalu.
Dalam bahasa Sunda, kata “tajur” merujuk pada kebun atau ladang yang biasa dimanfaatkan masyarakat untuk bercocok tanam.
Dahulu, kawasan Tajur dikenal sebagai daerah yang didominasi lahan perkebunan. Warga memanfaatkan tanah yang subur untuk menanam berbagai tanaman seperti singkong, rambutan, hingga durian.
Kondisi tersebut membuat wilayah ini identik dengan aktivitas pertanian dan perkebunan masyarakat.
Selain digunakan untuk bercocok tanam oleh warga, pada masa kolonial Belanda wilayah Tajur juga sempat dimanfaatkan sebagai lokasi persemaian serta perkebunan karet.
Secara geografis, wilayah Tajur berada di bagian Barat Daya Kecamatan Ciledug dan berbatasan langsung dengan wilayah Tangerang Selatan.
Aliran Kali Angke menjadi salah satu batas alami yang memisahkan kawasan Tajur dengan wilayah Sudimara Pinang.
Di dalam wilayah Tajur juga terdapat beberapa kampung yang memiliki cerita tersendiri mengenai asal-usul penamaannya. Salah satunya Kampung Duren Sawit yang konon dahulu banyak ditumbuhi pohon durian.
Meskipun buah durian yang tumbuh di kawasan tersebut berukuran relatif kecil, rasanya dikenal manis. Karena ukuran buahnya yang kecil, masyarakat kemudian menyebutnya seperti sawit sehingga muncul nama Duren Sawit.
Selain itu terdapat pula Kampung Ciputat yang berada di dekat aliran Kali Angke. Nama Ciputat dipercaya berasal dari pohon putat yang dahulu banyak tumbuh di tepi sungai tersebut. Pohon ini dikenal memiliki daun yang lebar serta batang yang dapat tumbuh tinggi menyerupai payung.
Seiring perkembangan waktu, wilayah Tajur yang dahulu dikenal sebagai kawasan perkebunan kini telah berubah menjadi kawasan permukiman padat penduduk.
Editor: Agus Priwandono











