LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Konunitas Teater Guriang Tujuh Indonesia akan menggelar acara Saba Budaya Banten di Amphitheater Guriang Indonesia Warunggunung, Kabupaten Lebak pada Jumat 29 Maret 2024 nanti.
Dalam acara itu akan ada diskusi budaya yang dihadiri oleh para pemerhati budaya di Banten seperti Dadan Sunjana selaku Kebudayaan Banten dalam 1 Dekade, Bambang Prihadi sebagai Jejaring Kebudayaan Banten-Jakarta dan Imam Rismahayadin sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak.
Direktur Yayasan Guriang, Dede Abdul Majid mengatakan, melalui Saba Budaya ini, pihaknya memiliki kesempatan untuk membentuk opini, sikap, dan persepsi masyarakat terhadap berbagai aspek budaya di Banten.
“Melalui acara dan kegiatan yang di gelar di Saba Budaya Banten, Guriang menciptakan ruang untuk dialog, refleksi, dan pemahaman bahwa masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dan melestarikan warisan budaya suatu komunitas atau wilayah,” ujar Majid sapaan akrabnya, Selasa 26 Maret 2026.
Saba Budaya Banten mengacu pada suatu gambaran atau representasi visual dari keragaman budaya yang diintegrasikan dengan konsep keberlanjutan.
Saba dalam bahasa Sunda memiliki arti mengunjungi.
Budaya Banten, berarti kehidupan yang mewakili karakter atau identitas masyakat Banten. Baik secara, nilai, norma, sejarah, arsitektur, motif batik, busana tradisional, musik tradisonal, pertanian, adat istiadat atau cara hidup yang berlandaskan pada kearifan local masyarakat Banten.
“Jika diartikan, Saba Budaya Banten, berfokus pada ekologis budaya, sosial budaya, dan ekonomi budaya. Ketiga hal tersebut mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam upaya mencapai tujuan keberlanjutan. Dalam keseluruhan, ekologi, Sosial, dan ekonomi kebudayaan menyoroti pentingnya melihat budaya dan lingkungan sebagai sistem yang saling terkait dan saling mempengaruhi sebagai jejaring kebudayaan,”jelasnya.
Majid menuturkan, pengembangan pengelolaan ruang budaya Saba Budaya Banten terbagai atas tiga tahapan. Program jangka pendek, menengah, dan Panjang. Pada jangka pendek, fokus utama akan diberikan pada pemahaman mendalam mengenai kebutuhan masyarakat terkait ruang budaya, serta pengumpulan data dan analisis untuk mengevaluasi potensi pemanfaatan yang lebih optimal.
Pada jangka menengah, tujuan akan difokuskan pada peningkatan aksesibilitas dan promosi ruang budaya. Pemanfaatan teknologi informasi dan jejaring sosial akan ditingkatkan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan budaya yang diadakan di ruang tersebut.
“Dalam periode ini, kerja sama dengan komunitas lokal, seniman, dan institusi budaya akan lebih ditekankan untuk memastikan program- program yang dijalankan relevan dan bermanfaat bagi semua pihak terkait,” tuturnya.
Sementara, pada jangka panjang, fokus akan diberikan pada pembangunan keberlanjutan ruang budaya. Meliputi pengembangan program-program pendidikan dan pelatihan untuk generasi mendatang dalam rangka melestarikan nilai budaya dan seni menjaganya dari kepunahan.
Implementasi pelaksanaan program Saba Budaya Banten mengidentifikasi kebutuhan dan harapan terhadap ruang budaya. Selanjutnya, data yang terkumpul akan dianalisis secara cermat untuk mengidentifikasi pola dan tren yang muncul.
“Berdasarkan hasil analisis tersebut, program-program budaya yang sesuai dengan nilai dan identitas lokal akan dirancang dan dijalankan. Sehingga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses kreatif dan meningkatkan pemahaman mereka tentang teknik dan proses berkarya,” ujarnya.
Program peningkatan kapasitas organisasi pengelolaan ruang budaya menjadi landasan yang esensial dalam memastikan efektivitas dan keberlanjutan pengelolaan ruang budaya.
Kegiatan dimulai dengan peluncuran program Saba Budaya Banten.
Salah satu Kegiatan dalam peluncuran Saba Budaya Banten adalah diskusi kebudayaan Bersama Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata, budayawan Banten Dadan Sudjana, dan Bambang Prihadi ketua Dewan Kesenian Jakarta. Pemantik diskusi, Nedi Suryadi dari Sandekala Institute.
Kegiatan peluncuran program Saba Budaya Banten dimeriahkan oleh Sanggar Lebak Membara, angklung buhun Baduy, Qasidah ibu-ibu masyarakat alun-alun, Tari kreasi Ngagebot dari SDN 3 Tambak Baya, Reo dan Gozil Momonon, dan pencak silat.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aditya











